KUNINGAN, TINTAHIJAU.com — Sebuah peternakan ayam broiler yang berlokasi di Desa Sangkanmulya, Kecamatan Cigandamekar, Kabupaten Kuningan, ludes dilahap si jago merah pada Sabtu (11/7) dini hari. Insiden tragis tersebut mengakibatkan puluhan ribu ekor anak ayam yang berada di dalam kandang hangus terpanggang tanpa sisa, menyisakan duka mendalam serta kerugian materiil yang sangat besar bagi sang pemilik.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemadam Kebakaran Kabupaten Kuningan, Andri Arga Kusuma, menjelaskan bahwa peristiwa kebakaran tersebut pertama kali diketahui oleh pemilik kandang, Usman (37), sekitar pukul 01.00 WIB dini hari. Saat itu, dua orang karyawan yang tengah bertugas menjaga kandang dikejutkan oleh munculnya percikan api dari bagian dalam bangunan.
Menyadari kobaran api mulai membesar dan menjalar, Usman bersama para karyawan dan dibantu warga setempat bergegas melakukan upaya pemadaman secara mandiri dengan peralatan seadanya. Namun, embusan angin malam yang bertiup sangat kencang di kawasan tersebut membuat api merambat dengan sangat cepat dan tak terkendali.
Melihat situasi yang kian mencemaskan dan khawatir kobaran api akan meluas ke bangunan kandang lainnya di sekitar lokasi, Atang, seorang pejabat pemerintahan desa setempat, segera mengambil inisiatif untuk menghubungi pihak Damkar Kuningan guna meminta bantuan armada darurat.
“Awalnya kebakaran diketahui sekitar jam 1 malam oleh dua orang karyawan penjaga kandang. Mereka mencoba memadamkan api dengan air, namun karena angin yang cukup kencang kebakaran semakin besar. Apang selaku Kasipem Desa Japara mendapat laporan dari warga kemudian datang ke lokasi. Karena kebakaran yang cukup besar dan takut menjalar ke kandang ayam di sebelahnya, akhirnya Atang menghubungi call center UPT Damkar Satpol PP Kuningan,” ujar Andri Arga Kusuma saat dikonfirmasi media, Sabtu (11/7).
Merespons laporan darurat tersebut, UPT Damkar Kuningan segera menerjunkan sembilan personel terlatih menuju lokasi kejadian. Setibanya di tempat kejadian perkara (TKP), petugas mendapati api masih berkobar hebat melumat area kandang dua lantai yang memiliki luas mencapai 800 meter persegi tersebut.
Proses penjinakan api tidak berjalan mudah. Petugas di lapangan harus berhadapan dengan sejumlah kendala yang cukup berat, di antaranya adalah tiupan angin yang kencang serta jarak ke sumber air yang terbilang jauh dari lokasi kebakaran. Hambatan ini memaksa personel ekstra hati-hati dan membutuhkan waktu lebih lama untuk melakukan penyemprotan.
Setelah berjibaku melawan kobaran api selama kurang lebih 2,5 jam, petugas akhirnya berhasil mengendalikan situasi dan memadamkan si jago merah secara total sekitar pukul 05.00 WIB. Berdasarkan hasil pemeriksaan saksi-saksi pascapemadaman, kebakaran diduga kuat dipicu oleh adanya kerusakan teknis pada mesin penghangatan kandang, yang kemudian memicu percikan api dan menyebar luas ke seluruh material kandang yang mudah terbakar.
Akibat musibah ini, pengelola peternakan diperkirakan mengalami kerugian materiil yang sangat fantastis, yakni mencapai Rp 479.000.000. Berdasarkan data yang dihimpun, rincian kerugian meliputi bangunan dua lantai seluas 800 meter persegi senilai Rp 400.000.000, sebanyak 10.700 ekor anak ayam senilai Rp 53.500.000, pakan ayam seberat 1.000 kilogram senilai Rp 9.500.000, serta peralatan wadah pakan dan nipel senilai Rp 16.000.000.
Usman mengungkapkan bahwa kandang tersebut baru saja diisi sekitar dua hari yang lalu oleh anak ayam yang baru menetas (Day Old Chick/DOC). Dari total 10.700 ekor anak ayam yang ada di dalam kandang, petugas dan warga hanya mampu menyelamatkan sekitar 300 ekor saja. Peristiwa memilukan ini menyisakan kepanikan serta trauma mendalam bagi pemilik peternakan dan warga sekitar TKP.
Atas kejadian ini, pihak Damkar Kuningan mengimbau masyarakat untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran yang dapat dipicu oleh penggunaan tungku, gas, instalasi listrik, maupun aktivitas pembakaran sampah.
Masyarakat juga diminta rutin memeriksa serta membersihkan selang gas dan regulator, menghindari penggunaan stop kontak bertumpuk, serta memastikan kabel maupun lampu listrik telah memenuhi standar SNI guna mencegah terjadinya korsleting di kemudian hari.
Sumber: detikJabar





