Megapolitan

Lalai dalam Prosedur, Perawat RSHS Dinonaktifkan Buntut Insiden Bayi Nyaris Tertukar

×

Lalai dalam Prosedur, Perawat RSHS Dinonaktifkan Buntut Insiden Bayi Nyaris Tertukar

Sebarkan artikel ini
Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Kota Bandung. (Foto: Wisma Putra/detikJabar)

BANDUNG, TINTAHIJAU.com – Manajemen Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung mengambil tindakan tegas menyusul insiden nyaris tertukarnya bayi di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU). Perawat yang terlibat dalam peristiwa tersebut kini resmi dinonaktifkan dari tugas pelayanan pasien.

Direktur Utama RSUP Dr. Hasan Sadikin, Rachim Dinata Marsidi, menyatakan bahwa langkah ini diambil sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kelalaian yang terjadi. Selain dinonaktifkan, perawat tersebut juga telah dijatuhi sanksi administratif.

“Perawatnya dinonaktifkan, dipindahkan ke bagian yang tidak melayani pasien dan diberikan SP1 (Surat Peringatan 1),” ujar Rachim dalam keterangan resminya, hari ini.

Siap Dievaluasi Kemenkes

Menanggapi seriusnya permasalahan ini, pihak RSHS mengaku telah berkoordinasi dengan pemerintah pusat. Rachim menegaskan bahwa pihaknya sangat terbuka terhadap peninjauan lebih lanjut guna memastikan kualitas pelayanan rumah sakit tetap terjaga.

“Kami RSHS siap untuk dilakukan evaluasi oleh Kemenkes dan kami sudah melaporkan ke Kemenkes terkait kejadian ini,” tambahnya.

Pembenahan Standar Operasional

Insiden ini menjadi momentum bagi RSHS untuk melakukan pembenahan internal secara menyeluruh. Fokus utama evaluasi terletak pada penguatan kembali Standar Operasional Prosedur (SOP), khususnya pada fase krusial penyerahan bayi kepada pihak keluarga.

Rachim menekankan pentingnya kepatuhan total dari seluruh tenaga kesehatan dalam menjalankan protokol yang ada. Meskipun selama ini prosedur diklaim sudah berjalan baik, pembinaan ulang akan tetap dilakukan.

“RSHS akan mengevaluasi dan melakukan pembinaan lagi kepada para perawat terhadap kepatuhan melaksanakan SOP mengenai penyerahan bayi kepada orang tuanya,” pungkas Rachim.

Langkah preventif ini diharapkan dapat memulihkan kepercayaan publik dan menjamin keselamatan serta keamanan pasien di lingkungan salah satu rumah sakit rujukan terbesar di Jawa Barat tersebut.