Ketegangan yang berbulan-bulan membara di kawasan Timur Tengah akhirnya meledak. Iran dan aliansi Amerika Serikat–Israel terlibat konfrontasi terbuka, Sabtu (28/2/2026), setelah serangan udara menghantam Ibu Kota Teheran.
Ledakan dilaporkan terdengar di sejumlah titik di Teheran. Asap hitam membumbung tinggi di beberapa kawasan strategis kota. Serangan tersebut disebut sebagai operasi gabungan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Salah satu lokasi yang dilaporkan menjadi sasaran adalah kantor Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Hingga kini belum ada pernyataan resmi mengenai dampak kerusakan maupun kondisi Khamenei yang dalam beberapa hari terakhir tidak tampil di hadapan publik.
Aparat keamanan Iran dilaporkan menutup akses menuju kompleks kepemimpinan di pusat Teheran.
Media internasional Al Jazeera melaporkan sedikitnya 40 orang tewas akibat serangan tersebut. Sementara kantor berita resmi Iran, Islamic Republic News Agency, menyebut rudal menghantam sebuah sekolah khusus perempuan di Provinsi Hormozgan, Iran Selatan, dengan korban tewas dilaporkan mencapai sedikitnya 40 orang.
Di Washington, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan operasi militer tersebut ditujukan untuk menghilangkan apa yang ia sebut sebagai “ancaman nyata” dari rezim Iran.
“Militer AS memulai operasi tempur besar-besaran di Iran. Tujuan kami melindungi rakyat Amerika dengan menghilangkan ancaman dari rezim Iran,” ujar Trump dalam pernyataan resminya.
Trump juga menyerukan perubahan kepemimpinan di Iran, pernyataan yang dipandang sejumlah pengamat sebagai eskalasi politik di tengah konflik bersenjata.
Tak berselang lama, respons datang dari Islamic Revolutionary Guard Corps.
Garda Revolusi Iran meluncurkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone ke wilayah Israel serta sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Situasi keamanan regional pun meningkat drastis. Sejumlah negara di kawasan dilaporkan meningkatkan status siaga militer, sementara komunitas internasional mendesak deeskalasi guna mencegah konflik meluas.
Perang terbuka ini menandai babak baru ketegangan geopolitik global, dengan dampak yang berpotensi menjalar ke stabilitas energi, ekonomi, dan keamanan dunia.




