Majalengka, TINTAHIJAU.COM – Di tengah arus globalisasi, sosok perempuan inspiratif asal Majalengka, Ny. Dyah Fandy Dharmawan, berhasil membangun branding kuat di bidang fashion etnik sekaligus pemberdayaan UMKM berbasis wastra Nusantara.
Mengusung konsep “Ethnic is the New Chic”, Ny. Dyah menghadirkan inovasi dengan mengolah kain tradisional seperti tenun, songket, dan ikat menjadi produk modern yang fungsional dan elegan.
Melalui karya unggulannya, Strap Wastra Nusantara, ia berupaya menjadikan wastra tetap relevan dengan gaya hidup masa kini.Ny. Dyah tidak hanya fokus pada produk, tetapi juga membawa misi pelestarian budaya.
Ia memposisikan diri sebagai penggerak pelestarian budaya, inovator fashion etnik, sekaligus representasi perempuan berdaya. “Wastra bukan sekadar warisan—ia adalah identitas yang harus hidup, bergerak, dan relevan dalam setiap langkah zaman,” ujarnya.
Keberhasilan branding yang dibangun Ny. Dyah ditopang oleh empat nilai utama, yakni budaya, inovasi, pemberdayaan, dan elegansi. Konsistensi tersebut membuat namanya semakin dikenal di berbagai forum, mulai dari pameran hingga kegiatan ekonomi kreatif.
Selain sebagai kreator, Ny. Dyah juga aktif sebagai Ketua Persit Kartika Chandra Kirana (KCK) Ranting 3 Yonif 321. Perannya di organisasi ini turut memperluas pengaruhnya dalam mendorong perempuan untuk mandiri secara ekonomi serta mencintai produk lokal.
Ia juga terlibat dalam berbagai agenda strategis, termasuk pameran UMKM dan kegiatan komunitas. Salah satunya melalui Pameran PERSIT BISA Vol. II yang menjadi wadah bagi perempuan untuk menunjukkan peran dalam menggerakkan ekonomi kreatif.
Melalui kiprahnya, Ny. Dyah tidak hanya menciptakan produk, tetapi juga membangun gerakan untuk menghidupkan kembali wastra Nusantara dalam kehidupan modern.
Upaya tersebut diharapkan mampu menginspirasi pelaku UMKM dan perempuan lainnya untuk terus berinovasi tanpa meninggalkan akar budaya.





