JAKARTA, TINTAHIJAU.com — Di tengah kesibukan menjaga pintu masuk sebuah bank di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara, seorang petugas keamanan rupanya menyimpan rekam jejak pendidikan yang tak biasa. Dialah Khoirul Anam (28), satpam BRI Kantor Cabang Tanjung Priok yang berhasil mengumpulkan gelar akademik dan karya ilmiah lebih banyak dibanding sebagian besar lulusan perguruan tinggi.
Di balik seragam kuning yang dikenakannya saban hari, Anam telah menyelesaikan program magister Manajemen di Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma. Ia juga memiliki dua gelar sarjana, masing-masing dari Universitas Pamulang (S1 Manajemen) dan STIT Bustanul Ulum Lampung Tengah (S1 Pendidikan Agama Islam).
Produktif Menulis di Tengah Jadwal Kerja
Kesibukan bertugas tak menghalangi Anam untuk terus berkarya. Sampai saat ini, ia telah menerbitkan delapan buku ber-ISBN yang terdaftar di Perpustakaan Nasional. Tiga buku lain sedang ia rampungkan melalui program Dana Indonesiana dari Kementerian Kebudayaan.
Tak hanya itu, Anam juga telah menghasilkan 13 karya ilmiah yang tayang di jurnal nasional maupun internasional. Dua karya tambahan diserahkannya ke kampus sebagai bagian dari penyusunan skripsi dan tesis.
“Manajemen waktu itu tantangan terbesar. Kadang saya harus mengorbankan jam tidur untuk menuntaskan penelitian,” ujarnya saat ditemui pada Selasa (3/2/2026).
Produktivitas luar biasa itu mengantarkan Anam meraih Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai satpam dengan karya ilmiah terbanyak, sebuah pencapaian yang ia terima pada 30 Januari 2026.
Hambatan Biaya Publikasi
Di balik prestasinya, Anam mengakui bahwa biaya publikasi menjadi kendala yang tak mudah dilewati. Proses penerbitan jurnal maupun buku membutuhkan dana yang cukup besar, sementara ia harus menyesuaikan pengeluaran dengan gaji sebagai satpam.
“Keinginan saya tentu ingin publikasi di jurnal bereputasi, misalnya Sinta 2 atau bahkan Scopus. Tapi biayanya tidak kecil, jadi sampai sekarang masih terkendala,” kata pria asal Lampung tersebut.
Kisah Hidup Berliku
Perjalanan hidup Anam penuh tantangan. Ia merantau ke Jakarta pada 2018 dengan modal hanya Rp 1 juta. Pada tahun yang sama, ia mengalami sakit keras hingga koma, membuat keluarganya hampir kehilangan harapan.
Namun pengalaman itu justru menjadi titik balik. “Saya merasa diberi kesempatan hidup kedua. Harus ada perubahan, harus lebih baik,” ucapnya.
Kini Anam terus mengejar mimpinya. Ia ingin menjadi pengajar—guru atau dosen—dan percaya bahwa pendidikan adalah jalan untuk membuka peluang lebih besar.
“Motivasi saya ingin ikut mencerdaskan bangsa. Sambil bekerja sebagai satpam, saya berusaha perlahan menuju ke sana,” ujarnya.
Anam pun berpesan, apa pun profesinya, jangan pernah berhenti belajar. Menurutnya, kesempatan memperbaiki hidup selalu ada bagi mereka yang terus berusaha.
Sumber: KOMPAS.com





