TEHERAN, TINTAHIJAU.com – Detail mengerikan terkait serangan udara yang dilancarkan aliansi Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2/2026) mulai terungkap. Serangan yang menyasar kediaman sekaligus kantor operasional Pemimpin Tertinggi di Teheran tersebut tidak hanya menewaskan Ayatollah Ali Khamenei, tetapi juga menyapu bersih anggota keluarga dekatnya dan sejumlah petinggi militer Iran.
Kehilangan di Lingkaran Dalam Keluarga
Media lokal Iran, termasuk kantor berita Fars, mengonfirmasi bahwa serangan presisi tersebut meruntuhkan struktur bangunan yang dihuni oleh keluarga besar Khamenei. Laporan yang dikutip dari NDTV menyebutkan bahwa putri, cucu, serta menantu laki-laki dan perempuan sang Pemimpin Revolusi turut menjadi korban jiwa dalam insiden tersebut.
Melansir pernyataan resmi yang dirilis media setempat:
“Setelah menjalin kontak dengan sumber-sumber terpercaya di lingkungan keluarga Pemimpin Tertinggi, kabar tentang gugurnya putri, menantu, dan cucu Pemimpin Revolusioner sayangnya telah terkonfirmasi,” tulis media Fars.
Meskipun Khamenei diketahui memiliki enam orang anak, pihak berwenang sejauh ini belum merinci identitas spesifik dari putri-putrinya yang tewas dalam serangan mematikan tersebut.
Petinggi Militer dan Penasihat Senior Turut Gugur
Selain menghancurkan garis keturunan Khamenei, serangan ini menjadi pukulan telak bagi struktur pertahanan Iran. Beberapa tokoh kunci dalam Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dilaporkan tewas di lokasi kejadian, di antaranya:
- Mayor Jenderal Mohammad Pakpour: Kepala Garda Revolusi Iran yang merupakan figur sentral dalam kekuatan militer darat Iran.
- Ali Shamkhani: Penasihat Keamanan senior bagi Khamenei yang memiliki pengaruh besar dalam kebijakan strategis luar negeri dan pertahanan.
Wafatnya para tokoh ini menciptakan kekosongan kepemimpinan yang masif di saat Iran tengah mengumumkan masa berkabung nasional selama 40 hari.
Gagalnya Diplomasi Nuklir dan Janji Trump
Eskalasi militer ini merupakan puncak dari kebuntuan negosiasi nuklir antara Washington dan Teheran. Sebelumnya, Donald Trump memang telah memberikan peringatan keras bahwa opsi militer akan diambil jika kesepakatan tidak tercapai.
Operasi skala besar ini dilakukan segera setelah jalur diplomasi dianggap tertutup sepenuhnya. Sebagai respons balasan, Iran dilaporkan telah menutup Selat Hormuz, sebuah langkah strategis yang diprediksi akan mengganggu stabilitas distribusi bahan bakar global dan memicu krisis energi dunia.





