Pemerintahan

Antisipasi Kemarau Panjang, Distan dan Petani Cirebon Siapkan Strategi Khusus

×

Antisipasi Kemarau Panjang, Distan dan Petani Cirebon Siapkan Strategi Khusus

Sebarkan artikel ini
Petani mencari belalang untuk pakan burung di areal pesawahan yang dilanda kekeringan di Jalan Babakan Sari, Riung, Kota Bandung, Jumat (15/8/14). Meningkatnya jumlah pembangunan gedung di kawasan ini membuat daerah resapan air menjadi semakin berkurang akibatnya areal pesawahan yang hanya mengandalkan air dari turunnya hujan harus menggunakan mesin penyedot air untuk mengalirkan air dari selokan sekitar demi tetap teralirinya sawah. KORAN SINDO / DJULI PAMUNGKAS

KABUPATEN CIREBON, TINTAHIJAU.com – Musim kemarau panjang selalu menjadi momok menakutkan bagi sektor pertanian, tak terkecuali di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Demi mencegah ancaman kekeringan yang dapat memicu gagal panen, Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Cirebon mengambil langkah cepat dengan menyiapkan sejumlah strategi mitigasi dari hulu hingga hilir.

Sub Koordinator Produksi Tanaman Pangan Distan Kabupaten Cirebon, Iwan Mulyawan, menegaskan bahwa langkah preventif sangat krusial agar produktivitas petani tidak terganggu.

“Antisipasi pertama kami lakukan melalui koordinasi dengan dinas terkait seperti Dinas PUTR, BBWS, dan PSDAP, terutama dalam hal distribusi dan ketersediaan air,” ungkap Iwan pada Selasa (28/4/2026). Sinergi lintas instansi ini diharapkan mampu menjaga stabilitas suplai air irigasi, khususnya di titik-titik rawan kekeringan.

Selain tata kelola air makro, Distan Cirebon juga telah menyiagakan alat mesin pertanian (alsintan) berupa pompa air, baik yang bersumber dari bantuan pemerintah maupun swadaya masyarakat. Pompanisasi ini dinilai sebagai pertolongan pertama yang efektif untuk menjaga pasokan air kala debit sungai mulai menyusut.

Dari sisi budidaya, Distan aktif mengarahkan para petani untuk melakukan percepatan masa tanam. Melalui strategi ini, tanaman padi diharapkan sudah melewati fase kritis dan tumbuh cukup kuat sebelum puncak musim kemarau menerjang, sehingga risiko gagal panen bisa ditekan secara signifikan.

Petani juga diimbau untuk menggunakan varietas padi yang adaptif terhadap kondisi minim air. Beberapa varietas yang direkomendasikan antara lain Situ Bagendit serta varietas padi gogo seperti Inpago 1 hingga Inpago 13.

Sebagai bentuk perlindungan tambahan, pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian juga telah menyiapkan jaring pengaman berupa Cadangan Benih Nasional (CBN) dan pupuk organik cair non-subsidi jika skenario terburuk gagal panen tetap terjadi. Dukungan lain berupa perbaikan infrastruktur irigasi dan program pompanisasi terus digulirkan.

Upaya keras pemerintah dan petani ini tak lepas dari target untuk mempertahankan status Cirebon sebagai salah satu lumbung pangan. Berdasarkan data Distan, Kabupaten Cirebon memiliki lahan pertanian seluas 49.690 hektare, di mana sekitar 45 ribu hektare di antaranya aktif digunakan untuk budidaya padi.

Produktivitas pertanian di wilayah ini masih tergolong stabil dengan rata-rata produksi beras mencapai 350 ribu hingga 360 ribu ton per tahun. “Memang surplus kita menurun dibandingkan tahun 2014-2015 yang sempat mencapai 110 ribu ton, tetapi saat ini kita masih surplus di kisaran 90 ribu ton per tahun setelah memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat,” jelas Iwan.

Di tingkat akar rumput, ancaman kemarau sangat dirasakan secara nyata. Rouf (59), seorang petani asal Kecamatan Gegesik, menuturkan bahwa musim kemarau adalah masa yang paling ditakuti karena unsur utama pertanian—yakni air—menjadi barang langka.

“Air kalau udah kemarau susah banget sampe harus ngedadak bor sumur,” papar Rouf.

Meski harus merogoh kocek ekstra dan memutar otak untuk mendapatkan air, Rouf pantang menyerah. Ia mengaku telah beradaptasi dan sejalan dengan anjuran pemerintah dalam menghadapi iklim ekstrem ini. “Paling cara saya buat hadapi kemarau ya nyepetin masa tanam sama pilih varietas padinya,” pungkasnya.

Sinergi antara kesiapsiagaan pemerintah dan daya adaptasi petani di lapangan kini menjadi kunci utama bagi Cirebon dalam menghadapi tantangan berat musim kemarau panjang tahun ini.

Sumber: detikJabar