LABUAN BAJO, TINTAHIJAU.com — Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Wamen PPPA) Veronica Tan menyoroti praktik rentenir berkedok koperasi harian yang menjerat ibu-ibu rumah tangga di Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia mendorong penguatan ekonomi dan literasi keuangan agar perempuan tidak mudah terjebak utang.
Dalam kunjungannya di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Jumat lalu, Veronica mengingatkan masyarakat untuk tidak tergiur tawaran pinjaman tanpa memahami risikonya.
“Semoga solusi ekonomi itu bisa kami lakukan, tetapi balik lagi kepada ibu-ibu, jangan gampang terpapar atau tergiur dengan kata yang koperasilah atau apa pun, tetapi cek dan ricek apa yang ada di dalamnya sehingga kita nggak segampang itu terjerat utang,” pinta Veronica.
Ia menegaskan pentingnya edukasi agar pinjaman usaha tidak disalahgunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
“Kalau soal rentenir ya balik lagi, kita bicara edukasi, tetapi kadang-kadang susah banget ketika, jangankan rentenir, kalau kita nggak ngerti cara pakai duit. Jadi kalau bikin usaha harus dihitung kan modal berapa, modal jangan dipakai urusan setiap hari,” ujar Veronica seperti yang dikutip dari laman detikcom, Minggu (15/2/2026).
Menurutnya, minimnya literasi membuat seseorang mudah kembali terjerat utang, bahkan saat meminjam dari bank.
“Kalau literasi ini nggak ada, ya balik lagi, dengan bank pun, bank udah pinjamkan duit, nggak ada pendampingan tiba-tiba anak sakit, tiba-tiba butuh, bisa saja uang ini dipakai. Ketika dipakai usaha kurang uang, itulah yg membuat kadang-kadang mereka terjerat lagi utang yang lain,” lanjut Veronica.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar waspada terhadap penipuan investasi dan bank scam.
“Makanya sering diingatkan, satu hal yg paling penting nggak mungkin tanpa kerja keras kita dapat yang cepat, kadang dijanjikan invest akan kembali dalam 1 bulan 30% itu pasti bohong,” tegas Veronica.
Veronica menekankan bahwa dalam kondisi sulit, orang kerap tak berpikir panjang sebelum meminjam.
“Apalagi kalau ngomong koperasi walaupun pakai koperasi mau pakai wajah apa pun harus, yang harus memang dikuatkan itu si peminjamannya. Tetapi memang dalam kesusahan itu kita nggak bisa mikir karena udah pada kebutuhan mendesak, emergency, itu yang membuat kita akhirnya,” jelas Veronica.
Ia mengingatkan agar ibu-ibu tidak mudah percaya pada janji keuntungan cepat.
“Kalau sesuatu yang cepat janjinya terlalu banyak itulah yang harus diingatkan kepada ibu-ibu semua, jangan pernah. Kalau dijanjikan bunganya seperti itu taruh aja atau ambil, nggak apa-apa ambil dahulu saja nanti bayarnya seperti itu. Itu hal yang balik lagi harus sadar,” tegasnya.
“Tiap orang harus sadar bahwa tidak ada namanya free lunch, tidak ada yang gratis, semuanya pasti ada konsekuensinya, apalagi kalau udah ngomong rentenir ya udah itu di luar ya mereka akan datang dengan segala cara untuk mengambil uangnya kembali, bahkan pakai dengan cara-cara yang tidak baik,” jelas Veronica.





