JAKARTA, TINTAHIJAU.com — Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa membeberkan strategi pemerintah untuk meredam pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Kemenkeu kini rutin mengintervensi pasar obligasi (bond market) dengan menggelontorkan dana manajemen kas sebesar Rp2 triliun per hari guna memancing sentimen positif dan menahan aliran modal asing keluar (capital outflow).
Menkeu Purbaya memastikan langkah ini menggunakan dana kas siap pakai negara yang saat ini mencapai Rp420 triliun, sehingga sifatnya berputar dan bukan anggaran yang hilang. Intervensi ini diharapkan mampu menurunkan tingkat imbal hasil (yield) dan menaikkan harga obligasi dalam negeri.
“Saya akan masuk setiap hari bond market. Saya minta masuk Rp2 triliun setiap hari,” kata Purbaya usai rapat terbatas di Istana Kepresidenan, seperti yang dikutip dari laman KOMPAS.tv, Senin (18/5/2026).
“Kalau sentimen positif di situ biasanya asing juga ikut masuk dan rupiah cenderung terkendali. Kenapa? Karena uangnya enggak keluar lagi,” ucapnya terkait durasi intervensi yang akan menyesuaikan kebutuhan pasar.
Di sisi lain, situasi ekonomi dalam negeri mendapat sorotan tajam dari parlemen. Anggota Komisi XI DPR RI, Primus Yustisio, mengkritik keras Bank Indonesia (BI) karena menilai terjadi anomali. Meski pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat 5,61 persen, nilai tukar rupiah justru terus melemah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot tajam hingga minus lebih dari 20 persen, tertinggal dari bursa global yang sudah mulai bangkit.
Primus menyatakan kondisi ini memicu keraguan global terhadap kredibilitas bank sentral, bahkan secara terbuka meminta pertanggungjawaban Gubernur BI Perry Warjiyo.
“IHSG juga merosot tajam. Bursa-bursa dunia sudah rebound pascaperang rudal 28 Februari, bahkan banyak yang sudah positif. Sementara Indonesia masih minus lebih dari 20 persen,” tutur Primus dalam rapat kerja bersama BI, Senin (18/5/2026).
“Sebagai pimpinan BI, Pak Perry harus gentleman. Kalau memang tidak mampu menjalankan tugas dengan baik, mungkin saatnya mempertimbangkan mundur,” tegas Primus.





