SUBANG, TINTAHIJAU.COM – Momentum Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah harus menjadi sarana introspeksi dan evaluasi diri bagi seluruh elemen masyarakat, termasuk para penyelenggara negara. Hal itu disampaikan Anggota DPRD Jawa Barat, dr. Encep Sugiana, saat memaknai pergantian tahun dalam kalender Hijriah.
Menurut Encep, tahun baru Islam bukan sekadar peringatan seremonial, melainkan momentum penting untuk melakukan muhasabah atau evaluasi terhadap seluruh aktivitas yang telah dilakukan selama setahun terakhir, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Momentum Tahun Baru Hijriah harus kita jadikan sebagai sarana introspeksi dan evaluasi diri. Kita menghitung kembali apa yang sudah kita lakukan selama ini. Harapannya, tahun yang akan datang menjadi lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya,” kata Encep.
Ia menegaskan, evaluasi tidak hanya berlaku bagi individu, tetapi juga bagi pemerintah dan seluruh lembaga negara. Menurutnya, kinerja pembangunan dan pelayanan publik harus terus diukur berdasarkan dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat.
“Kita harus bertanya kepada diri sendiri, apakah kerja-kerja yang dilakukan selama ini benar-benar mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat? Apakah pembangunan yang dijalankan sudah memberikan manfaat nyata bagi rakyat?” ujarnya.
Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu mengingatkan bahwa seluruh pejabat negara, baik di lingkungan eksekutif, legislatif maupun yudikatif, memiliki tanggung jawab besar yang tidak hanya dipertanggungjawabkan kepada publik, tetapi juga kepada Allah SWT.
Menurutnya, jika selama ini masih terdapat kekurangan dalam menjalankan amanah dan belum mampu menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat, maka hal tersebut harus menjadi bahan perbaikan ke depan.
“Kalau memang selama ini kerja-kerja kita masih kurang baik, kurang mampu mendorong lahirnya kesejahteraan di tengah masyarakat, maka kita harus menyadari bahwa amanah sebagai pejabat publik bukan sesuatu yang ringan,” tegasnya.
Encep menambahkan, laporan pertanggungjawaban tahunan dan penilaian publik memang penting, namun ada pertanggungjawaban yang jauh lebih besar yang harus menjadi perhatian setiap pemimpin.
“Yang paling harus kita takutkan adalah ketika kelak kita berhadapan dengan Allah SWT untuk mempertanggungjawabkan amanah yang diberikan kepada kita. Amanah sebagai penyelenggara negara, pejabat publik, maupun wakil rakyat akan dimintai pertanggungjawaban,” katanya.
Karena itu, ia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menjadikan Tahun Baru Islam sebagai momentum memperbaiki kualitas pengabdian kepada masyarakat serta memperkuat komitmen dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab secara jujur, amanah, dan berorientasi pada kepentingan rakyat.
“Semangat Muharam harus menjadi pengingat bahwa jabatan bukan sekadar kehormatan, tetapi amanah yang harus dipertanggungjawabkan, baik di hadapan masyarakat maupun di hadapan Allah SWT,” pungkasnya.





