Ragam

IDAI Soroti Baliho Film “Aku Harus Mati”, Dinilai Berisiko bagi Kesehatan Mental Anak

×

IDAI Soroti Baliho Film “Aku Harus Mati”, Dinilai Berisiko bagi Kesehatan Mental Anak

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, TINTAHIJAU.com — Polemik promosi film horor Aku Harus Mati mendapat perhatian dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Organisasi tersebut menilai baliho film dengan judul dan visual yang ditampilkan berpotensi menimbulkan dampak negatif, khususnya bagi anak-anak dan remaja dengan kondisi mental yang rentan.

Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, menegaskan bahwa tidak semua orang memiliki ketahanan psikologis yang sama ketika terpapar konten semacam itu.

“Buat orang yang mentalnya sehat mungkin tidak apa-apa, tapi untuk anak-anak dengan gangguan kesehatan mental itu bisa sangat berbahaya,” kata dr. Piprim dalam media briefing di Jakarta, Selasa (7/4/2026).

Ia mengungkapkan bahwa sekitar 10 persen remaja mengalami gangguan kesehatan mental. Pada kelompok tersebut, paparan pesan ekstrem di ruang publik dinilai dapat memicu respons yang tidak diinginkan.

Menurutnya, kalimat dalam materi promosi film tersebut berpotensi memperkuat pikiran negatif, bahkan dalam kondisi tertentu dapat memicu dorongan berbahaya.

“Kalau yang depresi berat, kemudian melihat banner itu, bisa jadi ada afirmasi untuk bunuh diri pada dirinya,” katanya.

Selain itu, penggunaan diksi yang ekstrem dinilai dapat membingungkan anak-anak yang masih berada dalam tahap perkembangan pemahaman.

“Anak-anak bisa bertanya, kenapa harus mati, sementara mereka diajarkan untuk semangat dan berprestasi. Bagi anak-anak dengan gangguan kesehatan mental, ini bisa sangat berbahaya dampaknya,” kata Piprim menambahkan.

IDAI pun mengingatkan pelaku industri kreatif agar lebih berhati-hati dalam menyajikan konten, terutama yang ditampilkan di ruang publik dan mudah diakses oleh berbagai kalangan.

“Ayolah para produsen film berdiskusi dengan pakar psikolog dan kesehatan anak, supaya kontennya tetap bisa diterima tapi juga mengedukasi,” ujar dia.

Kritik terhadap promosi film tersebut tidak hanya datang dari kalangan medis, tetapi juga masyarakat luas yang menilai visual dan pesan yang disampaikan terlalu sensitif.

Menindaklanjuti laporan warga, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akhirnya menurunkan sejumlah baliho film tersebut dari beberapa titik. Langkah ini diambil sebagai respons atas kekhawatiran terhadap dampak psikologis, terutama bagi anak-anak, remaja, serta individu dengan kondisi mental yang rentan.

Sumber: KOMPAS