Ragam

Jeritan dan Kekecewaan Masyarakat Atas Pemadaman Listrik Sepihak PLN

×

Jeritan dan Kekecewaan Masyarakat Atas Pemadaman Listrik Sepihak PLN

Sebarkan artikel ini

SUBANG, TINTAHIJAU.com — Pemadaman listrik sepihak dan berulang oleh PT PLN (Persero) sejak awal Juni 2026 memicu gelombang kekecewaan masif di berbagai daerah (Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, hingga Jawa Timur).

Tanpa kejelasan informasi, durasi pemadaman yang kian lama—bahkan mencapai 10 jam—telah melumpuhkan aktivitas harian warga, menghambat workflow konten kreator, hingga mematikan pendapatan pelaku usaha kecil. Masyarakat merasa disengsarakan di tengah situasi ekonomi yang serba sulit, memicu protes massal yang kini membanjiri kanal komunikasi resmi PLN.

Fenomena ‘byarpet’ listrik bergilir kian meresahkan warga. Ironisnya, wilayah Jakarta dan Bali justru bebas dari pemadaman, yang diduga kuat hanya demi menjaga citra di pusat pemerintahan. Ketiadaan transparansi dari pihak PLN memperparah kepanikan, memunculkan isu ancaman blackout nasional akibat menipisnya cadangan batu bara.

Terkait hal ini, Anggota Komisi VI DPR RI, Mufti Anam, menyampaikan kritik tajamnya:

“Pemadaman listrik bergilir yang melanda sejumlah daerah makin lama semakin sering terjadi dan sangat membebani masyarakat,” seperti yang dimuat dilaman Akurat.co, dikutip Minggu (21/6/2026)

Meskipun PLN berdalih adanya pemeliharaan sistem dan gangguan pembangkit, serta Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengakui kendala pasokan batu bara, jaminan pasokan hingga akhir Agustus sebesar 84 juta metrik ton nyatanya tidak menghapus penderitaan rakyat di lapangan. Dampak kerugian materil dan imateril telah nyata dirasakan oleh masyarakat, sebagaimana ditegaskan kembali oleh Mufti Anam:

“Pemerintah tutup mata dan seperti tidak mempedulikan kesulitan rakyat. Dengan waktu yang lama dan terus-terusan terjadi, pemadaman listrik banyak menyebabkan kerugikan materil dan imateril bagi Rakyat,”

Dampak Nyata pada Industri Kreatif dan Sektor Usaha Mikro

Kekecewaan mendalam diutarakan oleh para konten kreator yang produktivitasnya terhenti seketika. Pemadaman tanpa pemberitahuan ini menghancurkan proses kerja digital mereka secara fatal saat tenggat waktu mendekat. Andy, pemilik akun TikTok @Gondrong.in Review asal Bandung, Jawa Barat mengungkapkan kekesalannya akibat proses kerjanya yang mati tiba-tiba dari jam 11 siang hingga jam 5 sore:

“Saya kecewa berat dengan PLN, karena proses rendering sedikit lagi selesai, eh ini listrik malah mati, jadi harus diulang lagi” ungkapnya kepada penulis.

Senada dengan Andy, Septa selaku pemilik akun TikTok dan IG @1minute_setup dari Sidoarjo, Jawa Timur, juga mengeluhkan pemadaman yang terjadi tepat saat dikejar deadline besar:

“Yang jelas karena kerjaannya jadi konten kreator sehingga workflow produksi konten sangat amat terganggu. Dari mulai lighting sampai peripheral ngonten kan butuh listrik tuh. Kalo ga ada deadline fine-fine aja. Tapi kalo ada ini cukup merepotkan apalagi brand dealsnya besar valuenya”

Tak hanya pekerja digital, pemadaman listrik juga memukul telak urat nadi usaha mikro. Warung kopi milik Hendi (53) di Bogor Utara seketika lumpuh dan gelap gulita pada Jumat malam, menyisakan kekecewaan mendalam akibat hilangnya pengunjung:

“Sangat-sangat merugikan. Enggak tahu pertanggungjawaban pemerintah apa dengan harga semua serba naik, dilema yang terjadi, apa tindakannya. Karena betul-betul menyengsarakan masyarakat ini kalau kayak gini,”

Akumulasi kemarahan ini memicu gelombang protes massal yang meluas. Ribuan warga yang kecewa kini terpantau membanjiri dan menyerbu kolom komentar akun Instagram resmi PT PLN (@pln_id) dan layanan pelanggan (@pln123_official) demi menuntut keadilan serta pemulihan hak-hak mereka.

Melalui kegelapan yang sempat melumpuhkan produktivitas kita, suara dan keluhan yang meluas di berbagai lini adalah bukti nyata betapa berharganya setiap daya energi bagi kelangsungan hidup dan usaha kita bersama. Di tengah rasa kecewa yang mendalam atas kerugian materil maupun imateril ini, mari kita tetap menjaga ketenangan dan menolak untuk kalah oleh keadaan. Suara kritis yang kita suarakan bukan sekadar protes, melainkan pengingat yang kuat agar keadilan pelayanan publik segera dipulihkan secara transparan.