SUBANG, TINTAHIJAU.COM – Ketidakpastian mengenai masa depan profesi guru menjadi salah satu keresahan yang banyak dirasakan mahasiswa keguruan saat ini. Mulai dari dinamika kebijakan pendidikan, persaingan rekrutmen tenaga pendidik, hingga isu kesejahteraan yang masih menjadi perhatian berbagai kalangan.
Kondisi tersebut menjadi salah satu sorotan dalam Webinar Pendidikan bertajuk “Cara Cerdas Jadi Guru Profesional dan Mandiri Finansial” yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (BEM FKIP) Universitas Mandiri, Sabtu (13/6/2026).
Founder Sekolah Rakyat Nusantara, Tiara Maulinda Habibah, mengajak mahasiswa pendidikan untuk mulai membangun ketahanan finansial sejak masa kuliah tanpa meninggalkan identitas dan idealisme mereka sebagai pendidik.
Menurut Tiara, pembahasan mengenai ketahanan finansial guru sering kali disalahartikan sebagai upaya mengalihkan tanggung jawab negara terhadap kesejahteraan tenaga pendidik. Padahal, menurutnya, kesejahteraan guru dan ketahanan finansial merupakan dua hal yang dapat berjalan beriringan.
“Kesejahteraan guru tetap harus diperjuangkan melalui kebijakan yang berpihak pada pendidikan. Namun sambil memperjuangkan perubahan sistem, calon guru juga perlu memiliki kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi dalam perjalanan kariernya,” ujar Tiara.
Ia menjelaskan bahwa banyak faktor yang memengaruhi kesejahteraan guru berada di luar kendali individu, seperti perubahan regulasi, kebutuhan tenaga pendidik, hingga kebijakan rekrutmen. Karena itu, mahasiswa pendidikan perlu mempersiapkan diri dengan kompetensi yang lebih luas agar mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan.
“Banyak hal tidak bisa kita kendalikan, seperti kebijakan, kuota, maupun formasi. Tetapi ada hal yang bisa kita kendalikan, yaitu kompetensi, kreativitas, dan kemampuan mengembangkan diri,” katanya.
Dalam pemaparannya, Tiara menekankan bahwa guru memiliki berbagai aset yang bernilai, mulai dari kemampuan mengajar, menyusun bahan ajar, membimbing peserta didik, berkomunikasi, hingga membangun kepercayaan di tengah masyarakat.
Kompetensi tersebut, menurutnya, dapat dikembangkan menjadi berbagai aktivitas produktif yang tetap berada dalam ekosistem pendidikan, seperti les privat, kelas keterampilan, penyusunan modul pembelajaran, pengembangan media belajar, pelatihan, hingga pembangunan komunitas belajar.
“Yang kita dorong bukan sekadar mencari penghasilan tambahan, tetapi bagaimana calon guru mampu mengoptimalkan kompetensinya sehingga memiliki lebih banyak pilihan dan lebih siap menghadapi perubahan zaman,” jelasnya.
Sebagai Founder Sekolah Rakyat Nusantara, sebuah inisiatif pendidikan berbasis masyarakat yang fokus pada pemberdayaan dan akses belajar, Tiara juga membagikan pengalaman membangun ruang belajar alternatif yang lahir dari semangat menghadirkan pendidikan yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, banyak inovasi pendidikan justru lahir dari keberanian untuk bergerak di tengah keterbatasan dan ketidakpastian.
“Jangan menunggu kondisi sempurna untuk mulai berkontribusi. Banyak perubahan besar dalam pendidikan dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten,” ungkapnya.
Webinar yang turut menghadirkan Dekan FKIP Universitas Mandiri, Dra. Hj. Ina Marlina, M.Pd., serta Leni Lesnawati, M.Pd., dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Subang tersebut diikuti oleh mahasiswa dan peserta umum dari berbagai daerah.
Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan tidak hanya memahami pentingnya profesionalisme guru, tetapi juga memiliki kesiapan menghadapi perubahan dan tantangan yang akan mewarnai dunia pendidikan di masa depan.
Menutup pemaparannya, Tiara mengingatkan bahwa guru masa depan membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan mengajar.
“Guru yang dibutuhkan di masa depan adalah guru yang profesional, adaptif, terus belajar, dan memiliki ketahanan untuk menghadapi perubahan. Ketahanan finansial adalah salah satu fondasi agar guru dapat terus bertumbuh dan tetap fokus menjalankan misi pendidikannya,” pungkasnya.





