Ragam

Mengenal Duck Syndrome, Si Pura-pura Bahagia!

×

Mengenal Duck Syndrome, Si Pura-pura Bahagia!

Sebarkan artikel ini

SUBANG, TINTAHIJAU.com – Duck Syndrome muncul pertama kali di Stanford University, dimana sindrom ini muncul sebagai fenomena kalangan mahasiswi di sana.

Istilah Duck Syndrome memiliki arti seekor bebek yang tampak tenang berenang di permukaan air, namun kakinya berjuang keras mengayuh dan menjaga tubuhnya agar tetap seimbang.

Kiasan ini digunakan untuk orang-orang yang terlihat bahagia, namun justru menanggung beban berat, banyak kecemasan, dan tekanan dalam hidupnya.

Cara bebek berenang adalah analogi yang digunakan untuk menjelaskan fenomena tersebut.

Adapun penyebab Duck Syndrome adalah sebagai berikut:

  • Ekspektasi Terlalu Tinggi

Ekspektasi yang tinggi dari orang lain sangat mempengaruhi seseorang mengalami sindrom ini.

Karena, mereka memiliki sifat yang berlebihan atas pandangan orang lain, bukan kapasitas yang mereka miliki.

Akhirnya mereka akan berupaya terlihat tenang dan baik-baik saja sesuai ekspektasi orang lain.

  • Pengaruh Media Sosial

Seperti kehidupan sempurna yang harus dipublikasikan, mereka berlomba-lomba mencitrakan dirinya di media sosial.

Sehingga, tak jarang mereka menipu jati dirinya di media sosial agar terlihat sempurna.

  • Perfeksionisme

Biasanya seseorang yang perfeksionis cenderung menetapkan standar hidup tinggi.

Sehingga, ia sulit, menerima kekuarangan atau kegagalan dalam hiduonya dan akan berupaya terlihat bahagia dan baik-baik saja.

  • Self-esteem Rendah

Menghargai diri sendiri penting dilakukan. Nah, seseorang yang memiliki self-esteem rendah sangat rentan terkena sindrom ini karena mereka sulit memahami dirinya sendiri. Mereka bisa memanipulasi dirinya berdasarkan pandangan orang lain.

Sedangkan untuk mengatasinya, sobat bisa kenali kapasitas diri, belajar mencintai diri sendiri, jangan terlalu memikirkan pandangan orang lain.

Selain itu, ubah pola pikir jadi lebih positif dan berhenti membandingkan diri dengan orang lain (fokus pada diri sendiri).

Lalu, beri jarak dengan media sosial dan gunakan secara bijak serta jujur pada diri sendiri.

Sumber: Disdik Jabar