SUBANG, TINTAHIJAU.com – Kolaborasi riset dan industri kembali diperkuat. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama CV. Fiona Benih Mandiri menggelar panen benih penjenis varietas padi unggul di areal pertanian Pusakajaya, Kamis (30/4/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi kerja sama antara BRIN dan CV. Fiona Benih Mandiri dalam pengembangan benih padi unggulan. Empat varietas yang dipanen meliputi Tropiko, Bestari, Inpari Sidenuk, dan Sinar.
Direktur Pemanfaatan Riset dan Inovasi pada Industri BRIN, Dr. Mulyadi Sinung Harjono, menjelaskan bahwa kerja sama tersebut telah disepakati pada akhir Desember 2025 untuk pengembangan empat varietas unggulan hasil riset BRIN.
Ia menegaskan, hasil riset BRIN diharapkan dapat dimanfaatkan oleh mitra secara optimal sehingga bisa diproduksi massal dan menjadi alternatif pilihan bagi petani.
“Harapan bisa melanjutkan ke label level berikutnya sampai ke Mitra langsung diberi,” jelasnya.
Pendiri CV. Fiona Benih Mandiri, Khaerul Anam Syah, menyambut positif sinergi tersebut. Menurutnya, kerja sama ini menjadi langkah penting dalam meningkatkan produktivitas padi, mulai dari pembenihan hingga pascapanen.
“Saya merasa bahagia punya kesempatan berakses, bisa bekerja sama, sama-sama saling menguatkan, sama-sama saling membantu dalam rangka hilirisasi hasil-hasil penelitian,” tuturnya.
Wakil Bupati Subang, Agus Masykur Rosyadi turut mengapresiasi kolaborasi tersebut. Ia menilai BRIN memiliki peran penting sebagai motor penggerak dalam peningkatan produktivitas pertanian.
“Intinya kami menyambut baik, memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas kerjasama Mitra CV. Fiona Benih Mandiri dengan BRIN, dengan menghasilkan varietas paling unggul,” jelasnya.
Ia optimistis empat varietas tersebut dapat mendorong produktivitas pertanian di Subang, yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung padi nasional.
“Tentu ini akan menjadi pendorong juga, Subang sebagai salah satu lumbung padi nasional urutan ketiga,” tuturnya.
Agus juga berharap inovasi benih unggul ini berdampak langsung pada kesejahteraan petani, terutama melalui peningkatan hasil panen dan harga jual.
“Mudah-mudahan dengan benih yang unggul ini, produktivitas di Subang semakin meningkat dan masyarakat Subang khususnya para petani makin bahagia ya, apalagi panen hari ini, sekarang ini harganya juga baik, termahal,” paparnya.
Ia turut mendorong penguatan teknologi pertanian untuk mendukung produktivitas dan mempertahankan posisi Subang sebagai daerah lumbung padi.
“Terima kasih atas kerjasama ini, mudah-mudahan ke depan, tentu bukan tidak tidak hanya berbicara tentang benih, tapi juga dengan teknologinya, untuk membantu masyarakat Subang, khususnya di bidang pertanian,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, memaparkan bahwa benih padi memiliki tahapan sertifikasi berdasarkan label warna yang menunjukkan tingkat kemurnian.
Label kuning (Breeder Seed) merupakan tingkat kemurnian tertinggi, diikuti putih (Foundation Seed), ungu (Stock Seed), dan biru (Certified Seed) yang umum digunakan petani.
“Yang kita panen hari ini adalah benih penjenis label kuning, yang nanti diharapkan bisa lanjut menjadi label putih, label Ungu sampai biru,” terangnya.
Ia menambahkan, keberagaman varietas penting untuk menjaga kemurnian benih sekaligus memberikan pilihan sesuai kebutuhan petani.Direktur Perbenihan Tanaman Pangan, Dr. Ir. Ladiyani Retno Widowati, menyebut keempat varietas tersebut telah resmi dilepas dan memiliki keunggulan masing-masing.
“Yang artinya mempunyai keunggulan, untuk meyakinkan petani itu butuh waktu tidak hanya dari produktivitas tapi sampai rasa, dan juga ke konsistensi produksi serta kemunculan endemennya,” jelasnya.
Di sisi lain, Kepala BRIN, Prof. Dr. Arif Satria, menekankan pentingnya percepatan hilirisasi hasil riset agar varietas unggul bisa segera diterapkan di lapangan.
“Jadi memang problem di Indonesia salah satunya adalah sekarang itu, bagaimana agar varietas-fase unggulnya diriset oleh kampus, yang dihasilkan oleh BRIN ini, bisa segera masuk ke pasar dan masuk di sawah-sawah petani,” paparnya.
Ia menjelaskan bahwa BRIN fokus pada riset dan uji coba hingga menghasilkan praktik pengelolaan terbaik (PPT) yang siap diterapkan petani.
“Karena tugas kami bukan melakukan produksi, tugas kami adalah melakukan riset dan kemudian melakukan uji coba ya hingga sampai muncul praktik pengelolaan terbaik (PPT) tanaman ya,” jelasnya.
Menurutnya, keberhasilan varietas unggul tidak hanya ditentukan oleh benih, tetapi juga dipengaruhi teknik budidaya, pengairan, dan kesehatan tanah.
“Varietas Unggul benar-benar Unggul maka ekosistem kita harus kondusif, setelah teknik budidaya, pengairan, masalah kesehatan tanah ya itu semua itu sangat berpengaruh,” ujarnya.
Ia juga menegaskan pentingnya adaptasi terhadap perubahan dalam sektor pertanian. “Jadi, bisa mewujudkan kemajuan pertanian di Indonesia dari sisi padi tersebut unggul, teknik yang lebih unggul, kemudian kemampuan kita beradaptasi terhadap perubahan,” pungkasnya.
Usai kegiatan, rombongan melanjutkan panen empat varietas unggul serta kunjungan ke Kampung Inovasi IPB di wilayah Kecamatan Compreng. Sejumlah pejabat daerah dan unsur terkait turut hadir dalam kegiatan tersebut.





