SUKABUMI, TINTAHIJAU.com — Suara mesin angkot jurusan Cikareo–Lettu Bakrie terdengar mengalun di salah satu sudut Sukabumi. Di balik kemudi kendaraan umum itu, duduk seorang remaja perempuan berusia 18 tahun dengan tangan mantap di setir dan pandangan fokus ke arah jalan. Dialah Putri Anjarwati, sosok muda yang kini akrab dengan dunia transportasi kota.
Warga Kampung Kebonjati, RT 3 RW 13, Kelurahan Sukakarya, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi ini bukanlah sopir angkot pada umumnya. Di usianya yang masih belia, ia sudah terbiasa melintasi trayek yang sama dengan para pengemudi senior.
Ketertarikannya bermula dari kebiasaan menemani sang ayah, Alohudin (55), yang lebih dulu berprofesi sebagai sopir angkot. Dari kursi penumpang, rasa ingin tahunya tumbuh hingga akhirnya ia ingin mencoba belajar mengemudi.
“Awalnya emang ikut ayah doang. Ikut ayah, cuma jadi iseng-iseng pengen belajar mobil. Bisa aja buat ke depannya,” ujar Putri saat ditemui detikJabar di sela aktivitasnya, seperti yang dirangkum dari laman detikJabar, Sabtu (21/2/2026).
Apa yang semula hanya coba-coba, kini menjadi rutinitas. Hampir dua tahun terakhir, Putri membantu ayahnya menarik angkot. “Setahunan, mau dua tahun,” katanya singkat.
Sehari-hari, ia membagi waktu antara sekolah dan bekerja. Pada pagi hari, sang ayah lebih dulu mengemudikan angkot. Sepulang sekolah, Putri mengambil alih hingga sore hari. Ia pun telah memiliki surat izin mengemudi (SIM) sebagai bentuk keseriusannya.
“Dari siang sampai sore. Paginya bapak, pulang sekolah baru narik,” ucapnya.
Bagi Putri, mengemudi bukan semata soal penghasilan. Di balik kemudi, ia merasakan pengalaman berharga—bertemu banyak orang dan memahami kerasnya perjuangan orang tua.
“Seru aja gitu. Bisa kenal banyak orang. Capek tapi seru sih. Jadi dapet ilmu. Jadi tahu perjuangan bapak juga,” tuturnya sambil tersenyum.
Dalam sehari penuh menarik angkot, pendapatan kotor bisa mencapai Rp300 ribu. Namun uang bukan tujuan utama. Profesi sopir sudah menjadi bagian dari keluarganya; dua kakak laki-lakinya juga bekerja sebagai sopir angkutan barang.
Putri pun menyimpan cita-cita yang lebih besar di dunia transportasi.
“Cita-cita jadi sopir busway sih. Udah lancar bawa mobil,” katanya percaya diri.
Sang ayah mengaku bangga melihat perkembangan putri bungsunya itu. Menurut Alohudin, Putri kini sudah kerap mengemudi sendiri tanpa pendampingan.
“Senang dan bahagia. Bahagia anak sudah bisa nyupir. Memang dia cita-citanya pengen bisa mobil. Soalnya kakak-kakaknya juga jadi sopir,” ujar Alohudin.
“Sering sendiri. Ini juga barusan saya mau turun, mau ada yang dibeli di pasar,” katanya.
Bagi sebagian orang, setir angkot mungkin sekadar alat mencari nafkah. Namun bagi Putri, kemudi itu adalah ruang belajar dan simbol kemandirian. Di tengah hiruk-pikuk jalanan Kota Sukabumi, ia perlahan menapaki mimpinya—membuktikan bahwa keberanian dan tekad tak mengenal usia.





