JAKARTA, TINTAHIJAU.com – Platform permainan daring populer, Roblox, baru-baru ini meluncurkan sebuah inovasi canggih yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI). Fitur teranyar ini dirancang untuk menyunting dan memparafrasekan kata-kata yang tidak pantas secara otomatis di dalam kolom percakapan antarpemain.
Mengutip laporan Engadget pada Minggu (8/3/2026), sebelum pembaruan ini hadir, Roblox sekadar menggunakan filter AI yang menyensor kata-kata terlarang dengan mengubahnya menjadi deretan tanda pagar (####). Sayangnya, metode pemblokiran tersebut justru sering kali membuat konteks obrolan antarpemain menjadi terputus dan sulit dimengerti.
Melalui sistem yang baru, kecerdasan buatan akan langsung merombak umpatan atau kalimat kasar menjadi padanan kata yang jauh lebih halus. Dengan begitu, pesan yang dikirim tetap mempertahankan makna aslinya dan alur percakapan bisa terus berjalan lancar tanpa teks yang mengganggu.
Chief Safety Officer Roblox, Rajiv Bhatia, menjelaskan bahwa pada tahap awal ini, sistem difokuskan untuk menangani kata-kata makian. Sebagai contoh, jika ada pemain yang mengetik umpatan seperti “Hurry TF up”, AI akan langsung meredaksinya menjadi kalimat yang lebih pantas, yakni “Hurry up”.
Setiap obrolan yang mengalami proses penyuntingan akan dilengkapi dengan keterangan yang menunjukkan bahwa pesan tersebut telah diparafrasekan oleh AI. Pihak pengirim pun bisa melihat langsung bagian mana dari kalimat mereka yang diubah. Walaupun kata-katanya sudah diperhalus oleh sistem, pihak Roblox menegaskan bahwa pemain yang kepergok terus-menerus menggunakan bahasa kotor tetap akan dijatuhi sanksi akibat melanggar panduan komunitas.
“Seiring sistem ini diperluas, hal tersebut dapat menciptakan efek berkelanjutan yang mendorong kesopanan, di mana umpan balik secara real-time membantu pengguna belajar dan menerapkan standar komunitas kami,” kata Rajib.
Untuk saat ini, fitur penyuntingan otomatis tersebut baru diaktifkan pada ruang obrolan antarpengguna yang telah melewati proses verifikasi usia dan berinteraksi dengan kelompok umur yang sepantaran. Fitur ini juga sudah terintegrasi dengan berbagai bahasa yang didukung oleh penerjemah internal Roblox.
Langkah ini menyusul kebijakan ketat Roblox pada bulan Januari lalu, di mana mereka mulai menerapkan sistem verifikasi usia akibat maraknya laporan terkait krisis keamanan anak, terutama soal ancaman predator dewasa yang mengincar pemain di bawah umur. Sebagai bentuk pencegahan, pemain yang berusia di bawah 13 tahun kini diblokir sepenuhnya dari fitur obrolan dalam gim, sementara pemain lainnya hanya diizinkan berinteraksi dengan teman sebayanya.
Kendati berbagai upaya perlindungan telah dilakukan, Roblox masih belum sepenuhnya lepas dari sorotan tajam. Pada bulan Februari, Pemerintah Los Angeles County, Amerika Serikat, melayangkan gugatan karena menilai Roblox sadar bahwa platformnya berisiko menjadi sarang pedofilia yang mengancam anak-anak. Tuntutan hukum serupa juga datang dari Jaksa Agung Louisiana yang menuding platform gim tersebut gagal memberikan perlindungan maksimal bagi pengguna anak dari bahaya predator seksual.





