JAKARTA, TINTAHIJAU.com – Setiap perayaan Tahun Baru Imlek di Indonesia, irama tambur, gong, dan simbal selalu berpadu mengiringi gerakan lincah singa berwarna mencolok. Barongsai kini tak hanya hadir sebagai hiburan yang memeriahkan suasana, melainkan menjadi simbol panjang perjalanan budaya, spiritualitas, serta harmoni dalam keberagaman.
Budayawan sekaligus peneliti kajian ketionghoaan, Alexander Raymon atau Alex Cheung, menegaskan bahwa barongsai memiliki makna lebih luas dibanding sekadar seni pertunjukan.
“Di masa lampau, masyarakat Tionghoa mempercayai bahwa singa yang menari memiliki kekuatan mengusir kejahatan, itu sebabnya dalam perayaan tahun baru Imlek atau perayaan Tionghoa lainnya, masyarakat Tionghoa akan mempersembahkan pertunjukan barongsai singa,” kata dia, Senin (16/2/2026) mengutip Antara.
Sebagai simbol keberanian dan kegagahan, singa dalam barongsai diyakini membawa keberuntungan, kesejahteraan, dan kedamaian. Di balik kostum mencolok dan koreografi yang dinamis, tersimpan nilai optimisme, semangat kebersamaan, serta persatuan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Beradaptasi di Tengah Keberagaman
Secara etimologis, barongsai atau wǔ shī berarti tarian singa. Di sejumlah wilayah di Pulau Jawa, istilah ini juga dikenal sebagai samsi atau siamsi dalam dialek Hokkian. Keberadaannya tak terpisahkan dari sejarah panjang komunitas Tionghoa di Nusantara.
Pasca era reformasi, barongsai semakin leluasa tampil di ruang publik. Pertunjukannya tak lagi terbatas pada Imlek atau Cap Go Meh, tetapi juga hadir dalam berbagai festival budaya, kegiatan institusi, hingga acara pribadi.
Menurut Alex, perkembangan tersebut mencerminkan proses akulturasi budaya. Kini muncul variasi barongsai bernuansa Jawa, penggunaan musik pop sebagai pengiring, hingga kolaborasi dengan tarian modern.
“Ini tidak membuat identitas dan kebudayaan Tionghoa memudar, tapi justru mewarnai identitas seni pertunjukan barongsai itu sendiri dengan kekhasan di setiap daerah di Indonesia,” ujarnya.
Berbagai perkumpulan Tionghoa seperti Hoo Hap Hwee, Hokkian Hwee Koan, Sin Ming Hui, Kuo Chi Yen Chiu She, Khong Kauw Hwee, Shantung Kung Hui, hingga Kwong Siew Wai Kuan turut menjaga kelestarian seni ini. Di sisi lain, komunitas barongsai masa kini semakin inklusif dan terbuka bagi siapa pun tanpa memandang latar belakang suku, agama, maupun ras.
Salah satu lembaga yang aktif mengembangkan barongsai adalah Yayasan Barongsai Kong Ha Hong. Selama lebih dari 20 tahun, yayasan tersebut telah lima kali meraih gelar juara dunia, yakni pada 2009 di China, 2014 di Indonesia, 2015 di China, 2017 di Indonesia, dan 2019 di China.
Ketua yayasan, Ronald Sjarif, menekankan bahwa pihaknya membuka kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat yang ingin belajar.
“Kita enggak saring-menyaring, yang penting ada anggota baru. Biasanya kita terima minimum sekitar 8 tahun dan tidak membedakan suku, agama, dan ras. Dan karena ini yayasan sosial, jadi kami melatih mereka sampai bisa main. Kalau hobi oke silakan, dan kami tidak pungut bayaran,” kata dia.
Antusiasme masyarakat biasanya meningkat setelah menyaksikan langsung pertunjukan di pusat perbelanjaan maupun festival budaya.
Diakui sebagai Cabang Olahraga
Transformasi barongsai tak berhenti sebagai tradisi budaya. Di tangan generasi muda, kesenian ini berkembang menjadi cabang olahraga. Sejak 2013, barongsai telah diakui oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia dan mulai dipertandingkan pada PON XIX Jawa Barat 2016.
Untuk menaungi cabang ini, dibentuk Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI).
Pelatih Kong Ha Hong, Andri Wijaya, menjelaskan perbedaan mendasar antara barongsai sebagai budaya dan sebagai olahraga.
“Ada perbedaan karena yang satu untuk hiburan atau olahraga yang satu lagi untuk budaya,” kata Andri.
Ia menambahkan bahwa dalam konteks tradisi, barongsai masih mempertahankan ritual tertentu, termasuk prosesi doa saat pembukaan usaha.
“Barongsai itu memang kan tadinya lahir dari budaya jadi ada tata cara alurnya. Kalau misalkan mau pembukaan toko mereka harus ada ambil sayur, itu mempunyai makna tertentu. Jadi tradisi-tradisi itu memang masih ada,” tutur Andri.
Sementara dalam ranah olahraga, teknik yang digunakan semakin kompleks dan penuh tantangan.
“Pertunjukan barongsai sebagai olahraga itu ada tekniknya. Karena sekarang ini barongsai sudah berkembang sebagai olahraga, tekniknya sudah makin tinggi kesulitannya. Makin susah, makin sulit,” kata Andri.
Perkembangan tersebut turut diperkaya dengan unsur seni bela diri seperti Kungfu dan Wushu, sehingga menghasilkan gerakan yang lebih dinamis dan atraktif.
Andri berharap status barongsai sebagai cabang olahraga mampu mendorong lahirnya lebih banyak atlet muda.
“Kita berharap dengan adanya olahraga ini tumbuh lagi generasi muda yang menggemari barongsai,” kata Andri.
Dari panggung vihara hingga arena kompetisi internasional, barongsai di Indonesia menunjukkan bahwa tradisi dapat terus berkembang tanpa kehilangan akar budayanya, sekaligus melahirkan prestasi yang membanggakan.





