Ragam

Imlek Meriah di Sukabumi dan Cianjur, Simbol Toleransi dan Persatuan Antarumat

×

Imlek Meriah di Sukabumi dan Cianjur, Simbol Toleransi dan Persatuan Antarumat

Sebarkan artikel ini
Perayaan Imlek di Sukabumi. Foto: Siti Fatimah/detikJabar

SUKABUMI, TINTAHIJAU.com – Ribuan warga memadati kawasan Pecinan tepatnya di depan Vihara Widhi Sakti, Jalan Pajagalan, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi, Senin (16/2/2026). Mereka datang untuk bersama-sama merayakan Tahun Baru Imlek dalam suasana penuh warna dan kebersamaan.

Deretan lampion merah menghiasi kawasan tersebut, sementara tabuhan barongsai menggema di tengah kerumunan masyarakat dari beragam latar belakang. Perayaan tak hanya menjadi ajang budaya, tetapi juga ruang perjumpaan lintas agama dan suku.

Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki, turut hadir menyapa warga. Ia menekankan bahwa Imlek bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum mempererat persatuan di Kota Sukabumi.

“Yang pertama, Sukabumi sudah tercatat sebagai kota toleransi terbaik nomor satu di Jawa Barat. Itu harus terus kita pertahankan,” kata Ayep seperti yang dirangkum dari laman detikJabar, Selasa (17/2/2026).

Ia menyebut, selain menjadi yang terbaik di tingkat Jawa Barat, Sukabumi juga berada di peringkat keenam kota paling toleran secara nasional. Capaian itu, menurutnya, mencerminkan kondisi kerukunan umat beragama yang telah berjalan baik.

“Artinya, kerukunan umat beragama di Kota Sukabumi sudah sesuai dengan harapan. Tinggal bagaimana kita mempertahankan dan meningkatkannya ke level nasional,” katanya.

Ayep mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari pelaku usaha, Forkopimda, tokoh masyarakat hingga lintas agama, untuk menjaga persatuan sebagai fondasi pembangunan kota.

“Persatuan ini membangun hukum yang baik. Berdaulat dengan hukum, berdaulat dengan ekonomi, sosial, pendidikan. Terutama berdaulat dengan hukum. Kalau konstruksi ini kokoh, saya pastikan Sukabumi menjadi kota yang sejahtera, adil dan mahmud,” ucapnya.

Ia juga menargetkan Sukabumi dapat menembus empat besar kota toleran secara nasional. Saat ini, Pemerintah Kota Sukabumi telah memiliki peraturan wali kota tentang kota toleransi dan kerukunan umat beragama yang direncanakan akan ditingkatkan menjadi peraturan daerah.

“Perwal sudah ada, tinggal kita naikkan menjadi perda. Kalau sudah jadi perda, maka melalui APBD harus ada anggaran khusus untuk pembangunan kota toleransi,” tegasnya.

Di momen Imlek pertamanya sebagai wali kota, Ayep mengaku bangga dapat hadir langsung di tengah masyarakat.

“Saya harus menjaga kerukunan, mulai dari wali kota bersama warganya,” katanya.

Sementara itu, Kapolres Sukabumi Kota AKBP Sentot Kunto Wibowo memastikan pihaknya memberikan dukungan penuh agar perayaan berlangsung aman dan kondusif. Ratusan personel dikerahkan untuk mengamankan kegiatan, termasuk pengaturan lalu lintas di sekitar lokasi.

“Kami aparat penegak hukum Polres Sukabumi Kota mendukung perayaan Imlek ini. Kami menjaga situasi kamtibmas agar tetap aman dan terkendali,” kata Sentot.

“Anggota sudah melaksanakan tugasnya sesuai SOP, termasuk penjagaan dan pengaturan lalu lintas,” ujarnya.

Cianjur Tampilkan Kerukunan Lintas Agama

Suasana serupa juga terlihat di Kabupaten Cianjur. Perayaan Imlek 2026 diwarnai kebersamaan umat dari berbagai agama yang mengikuti rangkaian kegiatan menyambut Tahun Baru China dengan shio Kuda Api.

Perwakilan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) turut hadir dalam perayaan di Vihara Bhumi Pharsjia, Jalan Mangunsarkoro, Senin (16/2/2026) malam.

Ketua Yayasan Vihara Bhumi Pharsjia, Uun Setiawan, menyebut ratusan warga Tionghoa mengikuti ibadah dan perayaan tersebut.

“Ada ratusan orang yang hadir. Termasuk dari dari FKUB Cianjur juga hadir,” kata dia.

Ia menjelaskan, perayaan tahun ini digelar secara sederhana tanpa kemeriahan berlebihan.

“Tahun ini lebih sederhana, hanya rangkaian kegiatan biasa tidak ada perayaan yang mewah,” kata dia.

Menurutnya, pergantian tahun baru China dirayakan dengan khidmat, disertai doa agar Cianjur senantiasa dijauhkan dari musibah.

“Doa untuk tahun baru ini, masyarakat Cianjur tetap rukun antar umat beragamanya. Selalu dilindungi dan dijauhkan dari musibah apapun,” kata dia.

Ia juga menyampaikan bahwa perayaan Cap Go Meh tahun ini akan bertepatan dengan bulan suci Ramadan. Untuk menghormati umat Islam, pawai barongsai dan liong yang biasanya digelar malam hari akan dipindahkan ke sore hari menjelang berbuka puasa.

“Tadi kami sudah komunikasi dengan FKUB, Cap Go Meh kali ini digelar sore hari menjelang berbuka. Nanti akan jadi tontonan dan hiburan bagi masyarakat Cianjur, sekaligus ngabuburit menunggu waktu berbuka puasa bagi umat Islam di Cianjur,” kata dia.

Kapolres Cianjur AKBP A Alexander Yurikho Hadi menyatakan puluhan personel telah disiagakan guna memastikan keamanan perayaan.

“Di sini saja ada sekitar 50 personel yang disiagakan untuk menjaga keamanan sampai besok pagi. Supaya Imlek berjalan dengan aman,” kata dia.

Ia menilai perayaan Imlek di Cianjur memiliki nilai lebih karena menghadirkan kebersamaan lintas agama secara nyata.

“Tadi saya bertemu dengan berbagai jemaat, dan ini mencerminkan kerukunan. Semoga ini menjadi contoh kabupaten atau wilayah lain di Indonesia untuk tingkat kerukunannya,” kata dia.

Menurutnya, harmoni antarumat di Cianjur bukan sekadar konsep, tetapi benar-benar terwujud dalam kehidupan sehari-hari.

“Dapat saya tangkap di sini adalah kerukunan ini bukan hanya di mulut, kerukunan ini bukan hanya di konsep, kerukunan ini memang betul-betul terlaksana,” pungkasnya.