Megapolitan

Targetkan 3000 Perumahan, ‎‎Kadin Majalengka Sasar Pasar Genteng Jatiwangi di Wilayah Ciayumajakuning

×

Targetkan 3000 Perumahan, ‎‎Kadin Majalengka Sasar Pasar Genteng Jatiwangi di Wilayah Ciayumajakuning

Sebarkan artikel ini

Kadin Majalengka Bidik Pasar Genteng Jatiwangi di Wilayah Ciayumajakuning

MAJALENGKA, TINTAHIJAU.COM – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Majalengka mulai mengunci pasar bagi industri genteng lokal melalui agenda Majalengka Hosting Partnership Genteng Inisiasi 2026.

Skema ini dirancang untuk memastikan rantai pasok antara produsen genteng Jatiwangi dan sektor properti di wilayah Ciayumajakuning berjalan lebih terstruktur dan berkelanjutan.

Kegiatan yang digelar di salah satu hotel di Majalengka, Senin (2/3/2026), itu menggandeng Bank Tabungan Negara (BTN) sebagai mitra pembiayaan, sekaligus mempertemukan pengusaha genteng dengan asosiasi pengembang perumahan wilayah III Cirebon.

Ketua Kadin Majalengka, Raden Surya Natanegara, menegaskan langkah tersebut merupakan respons dunia usaha terhadap program pembangunan perumahan nasional yang tengah digencarkan pemerintah pusat, lalu disinergikan dengan pemerintah daerah.

“Program ini sudah kami gagas bersama Pak Bupati sejak satu tahun lalu. Setelah kembali ditekankan dalam rakornas oleh Presiden, kami langsung bergerak menggandeng stakeholder, termasuk perbankan Himbara dan asosiasi pengembang, agar pasarnya jelas,” ujarnya.

Dalam forum itu, dilakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Kadin, Dinas Perumahan dan Permukiman Kabupaten Majalengka, serta asosiasi pengembang wilayah Ciayumajakuning.

Melalui skema tersebut, setiap pembangunan perumahan di Ciayumajakuning diharapkan menjalin kerja sama langsung dengan pengusaha genteng Jatiwangi melalui satu pintu koperasi, yakni Koperasi Pengrajin Genteng Jatiwangi (Kopekja).

Model ini tidak hanya membuka akses pembiayaan dari BTN, tetapi juga memastikan komitmen serapan pasar.

“Bukan hanya solusi permodalan dari BTN, tapi juga kepastian pasar. Ke depan, setiap perumahan yang berdiri sudah memiliki jalinan kerja sama dengan pengusaha genteng Jatiwangi,” kata Surya.

Kapasitas Besar, Tantangan Regenerasi
Berdasarkan data Perkim, terdapat 217 pengusaha genteng di lima kecamatan di Majalengka. Sebanyak 17 di antaranya tidak aktif, sehingga tersisa sekitar 200 pelaku usaha aktif.

Dari sisi produksi, 200 pengusaha tersebut mampu menghasilkan hingga satu juta genteng per hari. Sementara target pembangunan tahun ini mencapai 3.000 unit rumah di wilayah Ciayumajakuning.

Jika rata-rata satu unit rumah membutuhkan ribuan genteng, potensi serapan pasar dinilai sangat besar.

“Kalau satu rumah dikalikan kebutuhan gentengnya, tentu potensinya besar. Artinya pasar ini sangat menjanjikan jika dikelola dengan baik,” jelasnya.

Namun demikian, industri genteng tradisional Jatiwangi menghadapi tantangan serius, terutama penurunan tenaga kerja dan minimnya regenerasi akibat persaingan dengan pabrik modern.

Sebagai solusi, Kadin mendorong pengembang yang berinvestasi di Majalengka untuk mengalokasikan dana Corporate Social Responsibility (CSR) guna pengadaan mesin cetak dinamo otomatis bagi para pengusaha genteng.

Menurut Surya, mayoritas pengrajin masih menggunakan cetakan manual yang membutuhkan tiga pekerja. Dengan mesin dinamo, produksi dapat dilakukan dua orang dengan kapasitas lebih cepat tanpa mengubah kualitas.

Kadin menilai, peningkatan produksi tanpa jaminan pasar hanya akan memperbesar risiko usaha. Karena itu, kemitraan ini difokuskan pada keberlanjutan permintaan, terutama dengan adanya rencana program perumahan rakyat dari Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) yang diarahkan ke wilayah Jatiwangi.

“Percuma produksi ditingkatkan kalau pasarnya tidak ada. Intinya keberlanjutan pasar bagi pengusaha genteng lokal,” pungkasnya.

Skema kemitraan ini menjadi langkah awal integrasi industri bahan bangunan lokal ke dalam ekosistem properti regional, sekaligus menguji seberapa jauh industri tradisional mampu beradaptasi di tengah tuntutan efisiensi dan modernisasi sektor konstruksi.

‎‎

‎‎

‎‎

‎‎

‎‎