ISLAMABAD, TINTAHIJAU.com – Ketegangan di Timur Tengah memasuki babak baru setelah Pakistan resmi mengerahkan armada jet tempurnya ke wilayah Arab Saudi pada Sabtu (11/4). Langkah militer ini menjadi sorotan tajam lantaran dilakukan tepat saat Pakistan tengah menjadi tuan rumah perundingan gencatan senjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Perwujudan Pakta Pertahanan Bersama
Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengonfirmasi bahwa sejumlah pesawat tempur dan jet pendukung milik Angkatan Udara Pakistan telah mendarat di Pangkalan Udara King Abdulaziz, Provinsi Timur. Pengerahan ini merupakan implementasi perdana dari pakta pertahanan bersama yang ditandatangani oleh Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) pada September 2025 lalu.
Dalam perjanjian tersebut, kedua negara sepakat bahwa serangan terhadap salah satu pihak akan dianggap sebagai serangan terhadap keduanya.
“Islamabad terikat oleh kewajibannya kepada Riyadh berdasarkan perjanjian pertahanan. Kami berdiri bahu-membahu dengan Kerajaan Arab Saudi,” ujar Perdana Menteri Shehbaz Sharif melalui sambungan telepon kepada MBS, beberapa hari sebelum pengerahan dilakukan.
Diplomasi di Atas “Bara Api”
Situasi ini tergolong pelik bagi Pakistan. Di satu sisi, Islamabad harus memenuhi komitmen militer kepada Arab Saudi yang wilayahnya terus menjadi sasaran rudal dan drone Iran. Di sisi lain, Pakistan berupaya menjadi mediator netral dalam konflik yang memanas sejak pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, pada akhir Februari lalu.
Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, mengungkapkan bahwa pihaknya telah berkomunikasi dengan Teheran mengenai pengerahan ini. Pakistan menjamin bahwa wilayah Saudi tidak akan digunakan sebagai pangkalan untuk menyerang Iran, sebuah syarat yang sempat diminta oleh pihak Teheran sebagai jaminan keamanan.
Eskalasi di Teluk
Meskipun upaya diplomasi terus berjalan di Islamabad, serangan terhadap aset-aset strategis di Arab Saudi tidak kunjung surut. Tercatat, beberapa pangkalan udara dan gedung kedutaan besar AS di Riyadh menjadi target serangan udara.
Kehadiran jet tempur Pakistan di Pangkalan King Abdulaziz diharapkan menjadi deteren (penangkal) bagi serangan-serangan lanjutan. Selain kerja sama militer, kedua negara juga menyepakati percepatan paket investasi Arab Saudi untuk Pakistan senilai USD 5 miliar guna memperkuat stabilitas ekonomi di tengah situasi keamanan yang tidak menentu.
Hingga berita ini diturunkan, perundingan di Islamabad dilaporkan masih berjalan alot tanpa kesepakatan final yang mampu menjamin stabilitas jangka panjang di kawasan Selat Hormuz.





