Ragam

Pengamat Sebut Program Makan Bergizi Gratis Gagal Sejak Perencanaan

×

Pengamat Sebut Program Makan Bergizi Gratis Gagal Sejak Perencanaan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Siswa Makan MBG | Foto: Diskominfo Kota Bandung

JAKARTA, TINTAHIJAU.com — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi andalan pemerintahan Prabowo Subianto dikritik tajam oleh Koalisi MBG Watch. Anggota koalisi, Agus Sarwono, menilai program ini tidak matang dan sengaja didesain demi perburuan rente.

Hal tersebut disampaikannya dalam dialog Sapa Indonesia Pagi Kompas TV, Rabu (10/6).

“Program ini memang di desain sedemikian rupa untuk menjadi perburuan rente, bahkan statement kami clear sebetulnya, program ini gagal sejak dalam perencanaan,” kata Agus.

Menurut Agus, indikator kegagalan terlihat dari jajaran pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) periode Dadan Hindayana yang dinilai tidak menguasai tata kelola, keamanan pangan, maupun keahlian gizi.

“Dari pimpinan BGN, tidak ada yang paham tata kelola, tidak ada orang yang paham soal keamanan pangan, tidak ada yang paham soal ahli gizi dan seterusnya,” ucap Agus. “Sehingga karena ini dipaksakan, jadilah ada kasus di situ dan kami sudah mengingatkan hati-hati karena kan BGN ini kan praktis benar-benar belanja harian.”

Sorotan lain juga tertuju pada besarnya anggaran untuk pengadaan barang digitalisasi seperti motor, sepatu, dan tablet, yang dinilai tidak berdampak langsung pada siswa penerima manfaat. Atas dasar itu, MBG Watch mendesak pemerintah segera melakukan moratorium operasional dapur guna memperbaiki tata kelola secara menyeluruh.

“Bagaimana mau efisiensi kalau programnya masih berlangsung, sudah tepat sebetulnya dihentikan terlebih dahulu programnya, perbaiki tata kelolanya. Moratorium yang kami maksud disini adalah hentikan dulu programnya, jangan ada operasi di dapur,” ujar Agus.

Agus menambahkan, berhentinya aktivitas dapur selama 2–3 hari terakhir justru mengungkap motif asli di balik program ini, di mana protes keras justru datang dari pengelola, bukan dari siswa.

“Ini kan jadi makin kelihatan selama 2-3 hari terakhir begitu, ketika di dapur berhenti yang marah-marah kan sebesar bukan penerima manfaat dalam hal ini siswa, tapi pengelo dapur. Pertanyaan utamanya sebetulnya, siapa sesungguhnya penerima manfaat program makan bergizi gratis, bukan siswa tapi yang punya kepentingan di sini, punya orang yang berkuasa.”

Sumber: KOMPAS.tv