JAKARTA, TINTAHIJAU.com — Kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, hari ini membara akibat gelombang unjuk rasa besar-besaran yang digelar oleh aliansi mahasiswa dari sejumlah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Jabodetabek. Ketegangan sempat memuncak ketika massa aksi yang didominasi oleh atribut BEM Universitas Indonesia (UI) itu terlibat aksi saling dorong dengan aparat kepolisian saat mencoba menerobos barikade petugas.
Aksi demonstrasi yang berlangsung sejak siang hingga sore hari ini semula direncanakan berpusat di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat. Namun, langkah mahasiswa terhenti total setelah pihak kepolisian melakukan blokade ketat dan melarang keras pemilihan lokasi tersebut sebagai titik konsentrasi massa.
Aparat keamanan sempat berupaya mencegat rombongan bus yang membawa ratusan mahasiswa dan mengalihkan rute mereka menuju depan Kompleks Parlemen Senayan. Kendati demikian, mahasiswa yang tetap bersikukuh menuju jantung ibu kota memilih turun ke jalan dan melakukan aksi long march demi menyuarakan aspirasi mereka.
Ketegangan verbal pun tak terhindarkan di lapangan. Kepala Bagian Perencanaan (Kabag Ren) Polres Metro Jakarta Pusat, AKBP Adri Desas Furyanto, secara tegas bahkan mempersilakan dirinya untuk ditabrak jika para mahasiswa tetap bersikeras merangsek masuk ke kawasan Bundaran HI.
“Kalau memaksakan kehendak, silakan tabrak kami. Kalau kalian ke titik sini, tidak akan dihalangi,” ujar AKBP Adri di hadapan massa aksi.
Pernyataan tegas perwira polisi tersebut langsung dibalas oleh perwakilan mahasiswa dari atas mobil komando. “Masalahnya aspirasi dan tuntutan kami enggak ke DPR saja. Kenapa tidak bapak-bapak ini saja yang ikut bersama kami ke Bundaran HI?” seru salah satu orator mahasiswa.
Menanggapi desakan tersebut, AKBP Adri menjelaskan alasan mendasar di balik larangan ketat pihak kepolisian. Menurutnya, Bundaran HI merupakan kawasan vital nasional yang tidak boleh lumpuh oleh aktivitas penyampaian pendapat karena menyangkut hajat hidup orang banyak.
“Bundaran HI itu jantung jalannya masyarakat, jantungnya perekonomian, center of gravity-nya Indonesia. Kalian nyetop di situ, selesai semua, Dek,” jelasnya menekankan dampak logistik kedaruratan di jalur utama tersebut.
Hingga sekitar pukul 16.30 WIB, ribuan mahasiswa dilaporkan masih bertahan dan mengonsentrasikan diri di kawasan Dukuh Atas, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan. Blokade berlapis dari pihak kepolisian tetap berdiri kokoh guna mengantisipasi rembesan massa ke arah utara.
Dalam aksi kali ini, aliansi BEM menyoroti berbagai isu makroekonomi dan kebijakan domestik terkini yang dinilai merugikan masyarakat, mulai dari pelemahan nilai tukar rupiah, tata kelola APBN, kenaikan harga BBM, hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Secara resmi, massa aksi membawa lima tuntutan utama kepada pemerintah, yaitu:
- Stop pemborosan APBN.
- Turunkan harga kebutuhan pokok dan BBM.
- Hentikan program MBG (Makan Bergizi Gratis) dan pembangunan Koperasi Desa Merah Putih.
- Hentikan militerisme di ranah sipil.
- Menuntut Prabowo berhenti mengelak dan akui kesalahan pemerintah.
Pihak keamanan menyatakan akan terus mengawal jalannya aksi di kawasan Dukuh Atas guna memastikan situasi ibu kota tetap kondusif dan aktivitas ekonomi masyarakat tidak terganggu total.
Sumber: CNN Indonesia




