JAKARTA, TINTAHIJAU.com — Aliansi UNJ Melawan bersiap menggelar aksi long march di sekitar lingkungan kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ) pada Jumat, 12 Juni 2026. Aksi massa yang diinisiasi oleh gabungan organisasi mahasiswa intra dan ekstra kampus ini dijadwalkan mulai bergerak pada pukul 13.00 WIB.
Kepala Departemen Sosial Politik Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (BEM FISH) UNJ, Dimas Galih, menjelaskan bahwa rute aksi akan mengambil jalur memutar dan melawan arah lalu lintas.
“Rute long march dimulai dari Rawamangun Muka melewati lapangan golf. Kemudian belok kanan ke arah Pemuda. Jadi kita akan lawan arah, sampai nanti titik berhenti di UNJ pintu Pemuda,” ujar Dimas seperti yang dilansir dari laman Tempo.co pada Kamis (11/6/2026).
Aksi ini dikabarkan tidak hanya diikuti oleh elemen mahasiswa, tetapi juga melibatkan sivitas akademika lainnya. Salah satu tokoh yang dipastikan hadir adalah Dosen Sosiologi UNJ, Ubedilah Badrun.
Hasil Konsolidasi dan Dua Poros Tuntutan
Anggota Aliansi UNJ Melawan, Andreas, mengungkapkan bahwa keputusan untuk turun ke jalan merupakan hasil konsolidasi total seluruh organisasi mahasiswa UNJ yang digelar pada Rabu (10/6/2026). Dalam konsolidasi tersebut, aliansi merumuskan dua poros tuntutan besar yang ditujukan kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan pihak Rektorat UNJ.
Untuk level nasional, aliansi melayangkan 10 tuntutan kepada pemerintah, di antaranya:
- Pembenahan nilai tukar rupiah dan penurunan harga bahan pokok serta BBM.
- Mewujudkan kesejahteraan guru dan memurnikan anggaran 20 persen APBN untuk sektor pendidikan.
- Penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta Koperasi Merah Putih.
- Tuntutan agar TNI kembali ke barak, serta penghentian kriminalisasi terhadap pemuda dan pembebasan tahanan politik.
- Penghentian skema Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH) demi mewujudkan perguruan tinggi gratis dan demokratis.
- Penciptaan lingkungan pendidikan yang aman dari kekerasan seksual.
- Penghentian Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dinilai merugikan lingkungan.
Sementara itu, untuk lingkup internal kampus, aliansi mendesak Rektorat UNJ untuk segera merampungkan pembangunan gedung Saudi Fund for Development (SFD) yang hingga kini mangkrak. Selain itu, mereka menuntut penyesuaian Uang Kuliah Tunggal (UKT) agar selaras dengan kondisi ekonomi riil mahasiswa.
Mematangkan Gerakan Kampus
Di tengah mencuatnya wacana aksi berskala besar “Reformasi Jilid 2”, Aliansi UNJ Melawan memilih untuk bersikap pragmatis. Andreas yang juga merupakan anggota Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Didaktika ini menyebutkan bahwa aliansi belum memutuskan untuk bergabung dengan gerakan nasional tersebut.
Fokus utama mereka saat ini adalah memantik kembali api pergerakan di internal kampus yang dinilai sempat meredup dalam beberapa bulan terakhir.
“Kami sendiri sebenarnya ingin fokus di UNJ dulu. Kita ingin menaikkan atensi dan memperbesar gerakan di UNJ sendiri, baru kemudian kemungkinan masuk ke dalam gerakan yang lebih luas secara nasional,” pungkas Andreas.
Kendati demikian, aliansi tidak menutup mata bahwa kondisi sosio-ekonomi ke depan berpotensi memburuk, sehingga aksi lokal ini dipersiapkan sebagai pemantik awal yang bisa berekskalasi menjadi gerakan nasional yang lebih masif.




