Ragam

7 Langkah Jaga Keuangan Saat Suku Bunga Naik dan Rupiah Melemah

×

7 Langkah Jaga Keuangan Saat Suku Bunga Naik dan Rupiah Melemah

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, TINTAHIJAU.com – Kenaikan suku bunga acuan dan melemahnya nilai tukar rupiah berpotensi menekan kondisi keuangan masyarakat. Dampaknya dirasakan mulai dari meningkatnya biaya cicilan kredit hingga naiknya harga barang yang bergantung pada bahan baku impor.

Perencana keuangan mengingatkan masyarakat untuk lebih cermat mengelola pengeluaran, utang, dana darurat, dan investasi agar kondisi keuangan tetap sehat di tengah ketidakpastian ekonomi.

Pertama, masyarakat disarankan menunda belanja konsumtif dan mengurangi utang yang tidak mendesak. Perencana keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE), Andi Nugroho, mengatakan pengeluaran untuk barang yang belum menjadi kebutuhan utama sebaiknya ditahan terlebih dahulu.

“Barang-barang yang sebenarnya kurang penting dan kurang perlu juga masih bisa ditunda pengeluarannya. Entah itu mau ganti gadget, ganti TV, beli kulkas ataupun barang lain yang sebenarnya tidak terlalu penting dan perlu sebaiknya di-hold dulu,” kata Andi.

Perencana keuangan Mike Rini Sutikno juga mengingatkan agar masyarakat menghindari utang konsumtif jangka panjang. Menurutnya, masyarakat perlu memetakan seluruh utang dan memprioritaskan pelunasan pinjaman berbunga mengambang serta utang konsumtif.

“Kita konsumen, masyarakat secara umum harus segera melakukan mapping utang kita, identifikasi mana yang paling urgent untuk dilunasi, terutama utang dengan bunga mengambang dan utang konsumtif,” ujarnya.

Kedua, pemilik kredit dengan bunga floating perlu lebih waspada karena cicilan berpotensi meningkat seiring kenaikan suku bunga. Andi menilai kredit pemilikan rumah (KPR) menjadi salah satu jenis pinjaman yang paling terdampak.

“Tentunya adalah utang-utang yang berkaitan dengan kenaikan suku bunga ini tadi. Contohnya adalah KPR,” kata Andi.

Ketiga, masyarakat dianjurkan memperkuat dana darurat sebagai antisipasi jika terjadi penurunan pendapatan atau kehilangan pekerjaan. Mike bahkan menyarankan dana darurat ditingkatkan hingga setara sembilan bulan pengeluaran.

“Kalaupun Anda saat ini sudah memiliki dana emergency enam bulan, rekomendasi tetap ditambah,” ujarnya.

Keempat, investor pemula disarankan memilih instrumen yang lebih defensif, seperti obligasi pemerintah dan sukuk ritel. Menurut Andi, instrumen tersebut relatif lebih aman karena dijamin pemerintah.

“Karena penjaminnya adalah pemerintah, kita bisa berpikiran positif bahwa ini akan relatif lebih aman,” katanya.

Kelima, masyarakat diminta menghitung ulang kemampuan keuangan sebelum mengambil kredit baru. Jika pinjaman tetap diperlukan, Mike menyarankan memilih skema bunga tetap.

“Pilih yang fixed rate saja. Setidaknya Anda tahu pasti cicilan bulanan Anda akan tetap selama jangka waktu tenor pinjamannya,” ujarnya.

Keenam, audit keuangan secara berkala menjadi penting untuk mengetahui pola pengeluaran dan menentukan pos yang dapat dikurangi. Andi menyarankan masyarakat membuat anggaran, mencatat pengeluaran, lalu mengevaluasinya setiap akhir bulan.

“Bikin budgeting, kemudian catat ketika pengeluaran itu benar-benar terjadi, terus kemudian kita evaluasi di akhir bulan,” kata Andi.

Ketujuh, penghematan perlu dilakukan secara bijak tanpa mengorbankan kualitas hidup secara berlebihan. Pengeluaran dapat ditekan dengan memilih alternatif yang lebih efisien, seperti memasak sendiri atau mengurangi frekuensi makan di luar.

“Kalau saya suka bilang gini, bedakan antara berhemat sama pelit,” ujar Andi.

Sementara itu, Mike menekankan bahwa pengelolaan keuangan akan lebih mudah dijalankan jika dilakukan dengan kesadaran terhadap tujuan keuangan yang ingin dicapai.

“Kita melakukan berbagai penghematan, melakukan pengelolaan keuangan itu dengan penuh semangat sebenarnya,” kata Mike.

Sumber: CNN Indonesia