Megapolitan

Bawa Misi Perdamaian, Pesepeda Asal Iran Arezoo Eskandari Tiba di Jakarta Setelah Lintasi Asia

×

Bawa Misi Perdamaian, Pesepeda Asal Iran Arezoo Eskandari Tiba di Jakarta Setelah Lintasi Asia

Sebarkan artikel ini
Pesepeda asal Iran, Arezoo Eskandari (35), mengayuh sepeda bersama komunitas pesepeda di Jakarta, Minggu (14/6/2026). (KOMPAS.com/ RUBY RACHMADINA)

JAKARTA, TINTAHIJAU.com — Arezoo Eskandari (35), seorang pesepeda perempuan asal Iran yang tengah melakukan perjalanan lintas Asia, tiba di ibu kota dan ikut mengayuh sepeda bersama komunitas lokal pada Minggu (14/6/2026). Mengendarai sepeda touring yang dimodifikasi khusus, Arezoo menyusuri rute-rute ikonik Jakarta mulai dari kawasan Sudirman, Kota Tua, hingga Cikini.

Penampilannya mencuri perhatian warga karena mengenakan jersey bermotif warna bendera negaranya: hijau, putih, dan merah. Sepeda besi yang dikendarainya membawa beban perlengkapan seberat 60 kilogram. Di sepedanya, berkibar bendera Iran beserta enam bendera kecil dari negara yang telah ia lalui, yaitu China, Vietnam, Laos, Thailand, Malaysia, dan Indonesia.

Mengusung Slogan “Slow Life” dan Misi Perdamaian

Arezoo mengungkapkan bahwa petualangannya telah dimulai sejak Desember 2025 dengan titik awal dari China. Ia resmi menginjakkan kaki di Jakarta pada Sabtu (6/6/2026).

“Saya berasal dari Iran. Perjalanan ini saya mulai tujuh bulan lalu. Saya bersepeda dari China, lalu melintasi Vietnam, Laos, Thailand, Malaysia, dan sekarang berada di Indonesia,” kata Arezoo seperti yang dilansir dari laman Kompas.com., dikutip Minggu (14/6/2026).

Perjalanan panjang ini diadakannya bukan sekadar untuk menyalurkan hobi, melainkan untuk membawa pesan persahabatan serta memperkenalkan sisi humanis Iran kepada dunia.

“Pesan yang saya bawa dari Iran adalah kebahagiaan dan perdamaian untuk masyarakat Asia. Slogan perjalanan saya adalah Slow Life. Slow Life berarti jangan terlalu memikirkan uang atau masa depan. Nikmati saja hidup saat ini dan jalani setiap momen dengan bahagia,” tuturnya.

Terkesan dengan Kuliner dan Keramahan Warga Jakarta

Meskipun sempat menghadapi kendala bahasa selama berpindah negara, hal tersebut tidak mengurangi kebahagiaan Arezoo. Selama 10 hari menetap di Jakarta, ia mengaku sangat terkesan dengan kehangatan warga setempat yang sering menyapanya di jalan hingga meminta foto bersama.

“Saya sudah berada di Jakarta selama 10 hari. Orang-orang di sini sangat ramah dan hangat sering kali mengucap “hy-hy” selama perjalanan. Saya sangat menikmati waktu bersama masyarakat Indonesia,” ujar Arezoo.

Selain keramahan warga, kuliner lokal juga menjadi hal yang paling disukainya. “Yang paling saya sukai di Jakarta adalah makanannya. Makanan Indonesia sangat lezat. Selain itu, masyarakat Jakarta juga sangat hangat dan selalu menyapa dengan ramah. Saya menyukainya,” ungkap dia, seraya menyebut nasi goreng sebagai makanan terfavoritnya.

Agenda Berikutnya: Menuju Bali dan Keliling Asia

Indonesia bukanlah pemberhentian terakhir Arezoo. Dari Jakarta, ia berniat mengayuh sepedanya menuju Pulau Bali yang diperkirakan memakan waktu perjalanan sekitar satu bulan. Setelah itu, ia menargetkan untuk melanjutkan petualangan ke India, Pakistan, Nepal, dan Turki sebelum akhirnya kembali pulang ke Iran dengan total target waktu satu tahun.

“Setelah dari Indonesia, saya berencana melanjutkan perjalanan ke India, Pakistan, Nepal, lalu menuju Turki sebelum kembali ke Iran. Target saya adalah berkeliling Asia selama satu tahun,” jelasnya.

Simbol Hubungan Diplomatik dan Suara Menolak Perang

Kegiatan bersepeda bersama ini turut dihadiri oleh Konselor Kebudayaan Kedutaan Besar Iran untuk Indonesia, Yahya Jahangiri. Yahya menyampaikan bahwa agenda ini merupakan refleksi dari hubungan persahabatan erat antara Indonesia dan Iran yang telah berjalan selama hampir 70 tahun secara diplomatik, dan berabad-abad secara kultural.

Di tengah situasi konflik yang saat ini melanda negaranya, Yahya menegaskan aksi ini membawa pesan perdamaian yang kuat dari kedua belah masyarakat.

“Saat ini Iran sedang menghadapi situasi perang. Kami ingin menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia dan Iran saling mendukung, serta sama-sama menginginkan perdamaian,” ujar Yahya. Ia menggarisbawahi bahwa seluruh pesepeda yang bergabung dalam kegiatan ini dengan tegas menyuarakan penolakan terhadap perang demi keamanan masyarakat, pelajar, dan anak-anak.

“Meskipun kedua negara terpisah jarak yang sangat jauh, kami berharap hubungan persahabatan antara Indonesia dan Iran bisa semakin dekat di masa depan,” pungkas Yahya.

Silakan beri tahu saya jika ada bagian dari berita di atas yang ingin Anda sesuaikan kembali fungsinya!