Ragam

Respon Era AI, Guru SDN Proklamasi Compreng Subang Kembangkan Smart IoT Learning Ecosystem

×

Respon Era AI, Guru SDN Proklamasi Compreng Subang Kembangkan Smart IoT Learning Ecosystem

Sebarkan artikel ini

SUBANG, TINTAHIJAU.COM – Guru SDN Proklamasi Compreng, Kabupaten Subang, Susi Susanti, S.Pd., mengembangkan inovasi pembelajaran Smart IoT Learning Ecosystem sebagai respons terhadap pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI) di dunia pendidikan.

Gagasan tersebut dituangkan alumni Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Subang (Unsub) angkatan 2021 dalam sebuah opini berjudul “Guru, AI, dan Masa Depan Pendidikan Indonesia.”

Konsep Smart IoT Learning Ecosystem mengintegrasikan AI, Internet of Things (IoT), simulasi digital, pemrograman, dan Project-Based Learning (PjBL) dalam satu ekosistem pembelajaran yang bertujuan meningkatkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan pemecahan masalah peserta didik.

Menurut Susi, AI tidak seharusnya diposisikan sebagai pengganti guru, melainkan sebagai thinking partner atau mitra berpikir yang membantu guru menghadirkan pengalaman belajar yang lebih bermakna dan berpusat pada siswa.

“AI bukan tujuan akhir dalam pendidikan. AI adalah alat bantu yang dapat mendukung guru menciptakan pembelajaran yang lebih inovatif, sementara peran guru sebagai pembimbing tetap tidak tergantikan,” kata Susi

Gagasan tersebut lahir setelah Susi mengikuti Bimbingan Teknis Pemanfaatan TIK, Etika Digital, dan Literasi AI Tahun 2026. Menurutnya, pemanfaatan AI di sekolah selama ini masih lebih banyak digunakan untuk membantu pekerjaan guru, seperti menyusun perangkat ajar, media pembelajaran, dan asesmen.

Melalui Smart IoT Learning Ecosystem, AI diintegrasikan ke dalam proses belajar sehingga peserta didik dapat memanfaatkannya untuk mengeksplorasi ide, menyusun solusi, melakukan simulasi, hingga mengimplementasikan hasilnya melalui proyek berbasis teknologi.

Sebagai implementasi, Susi mengembangkan proyek Smart IoT Flood Alarm, yakni pembelajaran berbasis mitigasi banjir. Dalam proyek tersebut, siswa diajak mengidentifikasi persoalan banjir, memanfaatkan AI untuk merancang solusi, menguji logika pemrograman melalui simulasi digital, hingga menerapkannya pada perangkat IoT.

Menurutnya, guru tetap memegang peran penting sebagai fasilitator yang membimbing siswa mengevaluasi setiap informasi yang dihasilkan AI agar tetap kritis dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi.

Ia menambahkan, konsep Smart IoT Learning Ecosystem juga dapat diterapkan pada berbagai isu lokal lainnya, seperti pengelolaan sampah, irigasi pertanian, energi terbarukan, hingga berbagai persoalan lingkungan yang dekat dengan kehidupan peserta didik.

Melalui inovasi tersebut, Susi berharap pembelajaran berbasis AI tidak hanya menghasilkan peserta didik yang mampu menggunakan teknologi, tetapi juga melahirkan generasi yang mampu menciptakan solusi atas berbagai persoalan di lingkungan sekitarnya sebagai bekal menghadapi tantangan menuju Indonesia Emas 2045.