Entertainmen

Berpulangnya Sang Biduan Pop Kreatif, Melodi Sunyi untuk Lina Soebardja

×

Berpulangnya Sang Biduan Pop Kreatif, Melodi Sunyi untuk Lina Soebardja

Sebarkan artikel ini

BANDUNG, TINTAHIJAU.com — Senin, 20 April 2026, menjadi hari di mana semesta musik Indonesia kembali kehilangan satu warna indahnya. Lina Soebardja (63), pemilik suara yang pernah membasuh telinga pecinta musik pop kreatif, telah melangkah menuju keabadian. Kabar duka ini mengalir dari untaian kata sang kakak, musisi legendaris Benny Soebardja, meninggalkan rintik kesedihan yang mendalam bagi mereka yang pernah mencintai suaranya.

Lina bukan sekadar nama dalam deretan sampul kaset tua; ia adalah bagian dari denyut jantung era “Pop Kreatif”—sebuah masa di mana nada-nada lahir dari eksperimen yang berani dan aransemen yang kaya akan jiwa.

Darah seni mengalir kental dalam nadinya. Lahir di tengah keluarga yang “bernapas” dengan musik, Lina tumbuh di bawah bayang-bayang kreatif sang kakak, Benny Soebardja (sang maestro rock progresif) dan Harry Soebardja. Lingkungan inilah yang membentuk Lina menjadi sosok penyanyi dengan standar kualitas yang tak sembarangan.

Lina Soebardja bersama sang kakak Benny Soebardja dan Vickry saat berkunjung ke studio DU 68 Bandung, milik Vickry DU.

Perjalanannya dimulai saat ia mengisi ruang-ruang kosong dalam grup Biru Langit dengan nama panggung Lina Alia. Lewat lagu seperti Segelas Anggur, ia mulai memahat jejaknya, sebelum akhirnya memutuskan untuk terbang sendiri menapaki jalur solo di awal dekade 90-an.

Jika kita bicara tentang warisan Lina, maka ingatan kita akan tertuju pada album ikonik “Barangkali Cinta Pertama”. Di sana, Lina membuktikan bahwa ia adalah mutiara yang berkilau. Di bawah arahan musik Bagoes AA, ia berkolaborasi dengan barisan pujangga musik tanah air:

  • Titik Hamzah dan Tito Soemarsono
  • Ian Antono dan Ekki Soekarno
  • Duo legendaris Dian Pramana Poetra & Deddy Dhukun

Suaranya adalah sebuah anomali yang cantik—lembut dan teduh di nada rendah, namun tetap kokoh dan bertenaga saat harus menjangkau langit nada tinggi. Ia bisa menjadi Pop, ia bisa menjadi Jazz, ia bahkan bisa menyentuh Rock dengan sangat anggun.

Album kaset Lina Soebardja berjudul Barangkali Cinta Pertama (koleksi Vickry DU)

Mungkin masa aktifnya di industri arus utama tidaklah sepanjang usia bumi, namun kualitasnya tak lekang oleh waktu. Lagu-lagu seperti Hari Ini Hariku atau Wahai Adikku tetap tersimpan rapi dalam ingatan kolektif para kolektor piringan hitam dan pengarsip seperti Irama Nusantara.

“Kepergian Lina Soebardja adalah pengingat bahwa ada suara-suara indah yang meski tak selalu tampil riuh di permukaan, tetap memberi warna pada kanvas sejarah musik kita.”

Kini, sang biduan telah beristirahat dengan tenang. Meski raga telah tiada, suaranya akan tetap mengalun lembut di antara putaran pita kaset dan memori indah masa lalu.

Selamat jalan, Lina Soebardja, semoga damai menyertaimu di sana, tempat di mana melodi paling indah tercipta.

Penulis: Kin Sanubary | Editor: Oki Rosgani