Entertainmen

Niken Salindry, Napas Baru di Jalur Karawitan dan Wajah Gen Z yang Berbudaya

×

Niken Salindry, Napas Baru di Jalur Karawitan dan Wajah Gen Z yang Berbudaya

Sebarkan artikel ini
Niken Salindry | IG @zie.makeupartist

KEDIRI, TINTAHIJAU.com – Pagelaran wayang kulit di PG Rejo Agung baru-baru ini menjadi pengingat kuat bahwa budaya tradisional tidak akan mati jika berani beradaptasi. Kerumunan penonton tidak lagi didominasi oleh generasi tua, melainkan anak-anak muda yang antusias dengan gawai di tangan. Fenomena ini membuktikan bahwa ketika pelakunya adalah anak muda, maka penonton yang datang pun akan berasal dari kalangan sebaya.

Di tengah transformasi budaya ini, muncul sosok Niken Salindry sebagai representasi sempurna. Ia adalah sinden berbakat asal Kediri yang memilih setia di jalur karawitan tanpa terlihat ketinggalan zaman, sekaligus menjadi jembatan bagi Gen Z untuk mencintai wayang kulit dengan cara mereka sendiri.

Lahir pada 29 Juni 2008, Niken tumbuh di sebuah rumah sederhana yang senantiasa dipenuhi aroma gamelan dan riasan panggung. Seni bukan sekadar hobi baginya, melainkan darah daging yang mengalir dari kedua orang tuanya.

Ayahnya adalah Ki Degleng Gondosupono, seorang dalang kondang asal Kediri yang mengajarkan Niken bahwa setiap cerita wayang mengandung pesan kehidupan mendalam. Sedangkan Ibunya adalah Wiwin Arumita seorang penata rias profesional yang mengajarkan Niken bahwa kecantikan bukan hanya soal riasan wajah, melainkan ekspresi dan gerak yang tulus.

Sejak kecil, suara kendang dan gong adalah “ninabobok” baginya. Saat anak-anak lain bermain boneka plastik, Niken lebih memilih duduk berjam-jam di belakang kelir, memperhatikan ayahnya menghidupkan tokoh-tokoh wayang sambil sesekali mencoba menyanyikan sindenan sederhana.

Meski awalnya hanya dikenal sebagai “anak dalang”, bakat Niken yang menonjol saat pentas sekolah dan lomba menyanyi tradisional perlahan membentuk identitasnya sendiri. Memasuki usia remaja, ia menghadapi tantangan besar: menjaga akar budaya di tengah arus globalisasi.

Niken menjawab tantangan tersebut dengan kecerdasan digital:

  • Pemanfaatan Media Sosial: Lewat akun Instagramnya, @niken_salindry_reall, ia membagikan momen latihan, aksi panggung, hingga kesehariannya.
  • Menjangkau Generasi Muda: Langkah ini berhasil membawa pesan budaya dari pelosok Kediri hingga ke layar ponsel remaja di kota-kota besar yang mungkin belum pernah menonton wayang secara langsung.

Kiprah Niken kini telah melampaui panggung lokal. Ia rutin diundang ke berbagai acara budaya nasional, festival kesenian, hingga menjadi duta budaya. Kekuatannya terletak pada kemampuannya menggabungkan teknik tradisional yang dipelajari dari sang ayah dengan pembawaan segar ala generasi muda.

Namun, di balik gemerlap lampu panggung, Niken tetaplah seorang remaja yang bersahaja. Ia memiliki sisi personal yang menarik:

  • Hobi: Menyukai fotografi, gemar membaca sastra, dan sering menghabiskan waktu merawat tanaman di halaman rumah untuk menjaga ketenangan.
  • Hubungan Saudara: Ia sangat dekat dengan adiknya, Khanisa Salindry. Kehangatan dan momen lucu yang mereka bagikan di media sosial membuat para penggemar merasa memiliki ikatan pribadi dengannya.

Niken Salindry adalah kisah tentang bagaimana akar budaya tidak harus tercabut oleh modernitas. Dari panggung kecil di Kediri, ia kini menjadi wajah segar pelestarian seni tradisional di Indonesia. Ia membawa api semangat para seniman pendahulu, namun dengan obor yang menyala terang di tangan generasi masa kini. Perjalanannya masih panjang, tetapi kehadirannya telah memberi warna baru bagi masa depan wayang kulit tanah air.