IDI Usulkan Pembatasan Iklan Junk Food untuk Menekan Angka Diabetes pada Anak

SUBANG, TINTAHIJAU.com – Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Piprim Basarah Yanuarso, baru-baru ini menggulirkan sebuah inisiatif yang sangat relevan dalam upaya menekan angka diabetes pada anak-anak di Indonesia. Dalam sebuah wawancara dengan CNNIndonesia.com pada Senin, 13 Februari, Piprim mengungkapkan keprihatinannya tentang peningkatan kasus diabetes pada anak-anak di negara ini. Dia mendorong pemerintah untuk mengambil langkah-langkah tegas dalam mengatasi masalah ini.

Salah satu langkah yang diusulkan oleh Piprim adalah pembatasan iklan junk food. Junk food adalah makanan dan minuman yang rendah gizi dan tinggi gula serta lemak jenuh, yang sering kali dikemas dengan desain yang menarik bagi anak-anak. Piprim menganggap bahwa dengan membatasi iklan junk food, kita dapat mengurangi daya tarik produk-produk ini pada anak-anak dan remaja.

Selain pembatasan iklan, Piprim juga menyarankan agar kandungan karbohidrat dalam produk seperti susu, minuman manis, kue, snack, dan biskuit dituliskan dengan jelas dalam kemasan. Hal ini akan membantu orangtua dan konsumen untuk lebih sadar akan jumlah gula yang mereka konsumsi. Piprim menyarankan adanya peringatan di kemasan, seperti “Konsumsi berlebih bisa menyebabkan diabetes,” untuk memberikan informasi yang lebih jelas kepada konsumen.

Upaya ini, menurut Piprim, sangat terkait dengan batas konsumsi gula harian pada anak-anak. Menurutnya, pemerintah bisa melibatkan diri dalam mengatur batas ini jika memang bertekad menekan angka diabetes pada anak. Dia juga menekankan bahwa batas konsumsi gula harian anak sebaiknya kurang dari 24 gram.

Pemerintah juga dapat melakukan upaya lebih lanjut dalam penanganan diabetes, khususnya diabetes melitus tipe 1, dengan menyediakan insulin dan alat pemeriksaan yang lebih mudah diakses oleh masyarakat. Dengan begitu, anak-anak yang berisiko dapat lebih cepat didiagnosis dan mendapatkan perawatan yang tepat.

Sebelumnya, IDAI telah mencatat bahwa kasus diabetes pada anak di tahun 2023 mengalami peningkatan hingga 70 kali lipat sejak tahun 2010. Data dari IDAI mencatat ada sekitar 1.645 anak di Indonesia yang mengalami diabetes. Namun, Ketua Unit Kerja Koordinasi Endokrinologi IDAI, Muhammad Faizi, mengingatkan bahwa angka ini mungkin sebenarnya lebih tinggi daripada yang tercatat saat ini. Ini adalah sebuah tantangan serius yang perlu segera diatasi demi kesehatan generasi muda Indonesia.

Data kasus diabetes pada anak-anak ini mencakup 15 kota di Indonesia, termasuk Jakarta, Surabaya, Palembang, dan Medan. Meskipun laporan paling banyak berasal dari Jakarta dan Surabaya, kita perlu mengingat bahwa masalah ini melibatkan seluruh negeri.

Dengan usulan dari IDAI dan dukungan yang kuat dari masyarakat, kita dapat berharap bahwa pemerintah akan mengambil tindakan proaktif dalam mengatasi lonjakan kasus diabetes pada anak-anak. Upaya pembatasan iklan junk food, penginformasian yang lebih baik mengenai kandungan gula dalam produk, dan penyediaan insulin dan alat pemeriksaan yang lebih mudah diakses adalah langkah-langkah penting dalam menjaga kesehatan dan masa depan anak-anak Indonesia.