TASIKMALAYA, TINTAHIJAU.com — Aktivitas warga di Perumahan Griya Aboh, Kelurahan Sukamulya, Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya, mendadak terganggu pada Sabtu (7/2/2026). Seekor anjing yang tiba-tiba berkeliaran di area permukiman tersebut memicu kepanikan setelah menunjukkan perilaku agresif dan menyerang salah seorang warga.
Anjing kampung dengan dominasi warna cokelat dan putih itu memiliki ukuran tubuh yang tidak terlalu besar, dengan tinggi kurang dari 60 sentimeter. Meski demikian, gerak-geriknya yang liar dan tak terkendali membuat warga merasa terancam. Kondisi semakin mengkhawatirkan ketika seorang penghuni perumahan mengalami luka akibat gigitan anjing tersebut.
Korban segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis. Sementara itu, warga yang diliputi rasa cemas memilih meminta bantuan petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Tasikmalaya untuk mengamankan situasi.
Berdasarkan keterangan warga, anjing tersebut pertama kali terlihat muncul di Blok S Perumahan Griya Aboh. Upaya warga untuk mengusirnya justru membuat situasi semakin memburuk karena hewan tersebut merespons dengan gonggongan keras disertai geraman.
Koordinator Lapangan Damkar Kota Tasikmalaya, Hendrik Setiana, menyampaikan dugaan bahwa anjing tersebut bukan berasal dari alam liar, melainkan hewan peliharaan yang terlepas dan mengalami tekanan.
“Dugaan kami itu anjing kampung yang kabur, bukan anjing liar dari hutan. Jika melihat perilakunya, anjing itu stres yang kabur atau istilah orang Sunda, anjing edan,” kata Hendrik seperti yang dilansir di laman detikJabar, dikutip Minggu (8/2/2026).
Ia menjelaskan, reaksi anjing yang semakin agresif dipicu oleh upaya warga yang mencoba menghalaunya. Hewan tersebut menganggap tindakan itu sebagai ancaman, hingga akhirnya menyerang.
“Kejadiannya di Blok S-15 Perum Aboh, atas nama Ibu Ratna, nah yang digigit itu suaminya. Saat mau mengusir malah diserang. Kena gigit di bagian bahunya, langsung dibawa ke rumah sakit, khawatir rabies,” katanya.
Menilai kondisi tersebut berisiko bagi warga lainnya, pihak keluarga korban segera menghubungi Damkar Kota Tasikmalaya. Tak berselang lama, Regu 2 Damkar diterjunkan ke lokasi untuk melakukan penanganan.
Petugas terlebih dahulu mengisolasi area dengan menutup pagar rumah dari luar agar pergerakan anjing dapat dibatasi. Selanjutnya, personel Damkar mengenakan pakaian pelindung khusus berbahan tebal guna mengurangi risiko cedera akibat gigitan.
Dua petugas dilengkapi alat penjerat berupa tongkat dan jaring. Saat posisi anjing berhasil dipersempit, jerat langsung diarahkan ke bagian leher dan diikuti dengan pemasangan jaring hingga hewan tersebut tidak lagi dapat melawan.
“Proses penangkapan berjalan lancar, kini anjing tersebut kami titipkan ke shelter penampungan anjing. Memang membutuhkan penanganan khusus agar anjing itu kembali stabil, tidak beringas lagi,” kata Hendrik.
Ia pun mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati dan bertanggung jawab dalam memelihara hewan peliharaan, terutama yang berpotensi membahayakan lingkungan sekitar.
“Kepada masyarakat yang punya peliharaan utamakan keselamatan warga di lingkungannya. Kemudian warga juga jangan salah kaprah ketika mengusir anjing. Lakukan dengan cara-cara yang aman, jangan sampai malah membuat anjing terancam dan berbalik menyerang,” kata Hendrik.
Sumber: detikJabar





