BANDUNG, TINTAHIJAU.com — Maraknya aksi kejahatan jalanan, khususnya pembegalan, kini tengah melanda Kota Bandung. Fenomena ini memicu keresahan mendalam di kalangan warga, yang merasa kenyamanan serta ketenangan mereka saat beraktivitas di luar rumah menjadi terganggu.
Kekhawatiran masyarakat kian memuncak seiring banyaknya unggahan di media sosial yang memperlihatkan teror para pelaku kejahatan tersebut. Dalam kurun waktu sepekan terakhir, pihak kepolisian dilaporkan telah membekuk sejumlah komplotan kriminal. Di antaranya adalah pelaku yang beraksi di Flyover Kopo, kawanan begal bermodus penagih utang (debt collector) di Jalan BKR, hingga insiden pembegalan teranyar yang nekat dilakukan pada pagi hari di kawasan Jalan Babakan Ciparaya.
Kondisi yang tidak menentu ini dirasakan langsung oleh Nita (36), seorang ibu rumah tangga yang menetap di kawasan Dago. Walau dirinya tidak memiliki banyak kegiatan pada malam hari, kecemasan tetap menghantuinya lantaran memikirkan keselamatan anggota keluarganya yang lain.
“Khawatir mah pasti, apalagi suami terakhir-terakhir suka punya urusan dagang dan keluar malem. Was-was aja di rumah sebelum suami pulang,” katanya, Sabtu (18/7/2026) seperti yang dilansir di laman detikJabar.
Rasa cemas Nita kian berlipat mengingat ia memiliki buah hati yang kini beranjak remaja. Ia dirundung ketakutan jika anaknya salah memilih lingkaran pertemanan hingga berujung ikut terseret dalam pusaran kriminalitas jalanan.
Ketakutan yang dialami Nita dinilai sangat berdasar. Merujuk pada data hasil operasi yang digelar Polrestabes Bandung, sebagian dari para pelaku pembegalan yang berhasil diringkus polisi ternyata statusnya masih anak di bawah umur.
“Anak saya kan sekarang kelas 3 SMA, makanya dipantau banget pergaulannya. Tapi kan di luar mah kita juga enggak tahu yah, paling saya cuma bisa bilang hati-hati kalau milih temen supaya dianya juga punya kesadaran sendiri,” ungkapnya.
Di tengah situasi ini, Nita menaruh harapan besar agar stabilitas keamanan di Kota Bandung dapat segera pulih. Ia berharap langkah-langkah konkret dari otoritas terkait mampu mengikis rasa takut yang kini dirasakan masyarakat.
Dampak dari situasi rawan ini juga memukul para pekerja lapangan, salah satunya Asep (28), yang berprofesi sebagai pengemudi ojek daring (online). Asep yang terbiasa bekerja mencari nafkah dari malam hingga menjelang subuh—atau dikenal dengan istilah ‘ngalong’—kini terpaksa mengubah pola kerjanya demi keselamatan.
Lantaran kondisi jalanan yang dinilai mulai tidak kondusif, Asep kini harus lebih selektif dan menerapkan strategi khusus saat menyortir pesanan yang masuk ke aplikasinya.
“Kalau dulu, misalnya ada orderan ke Soreang sekalipun, hajar aja malem juga. Sekarang mah milih-milih lagi, mending nyari yang deket, terus akses ke sananya juga masih ramai,” katanya.
Langkah preventif ini terpaksa ia ambil guna meminimalisasi risiko menjadi korban kejahatan di jalan. Bagi Asep, keselamatan adalah prioritas utama dan ia enggan berspekulasi menembus rute sepi saat malam sudah larut.
“Mudah-mudahan bisa cepet normal lagi lah, kang. Karena ojol-ojol yang lain juga khawatir kalau misalnya keadaannya gini terus mah,” tandasnya.





