Pemerintahan

Imbas Penataan Gedung Sate, Perpustakaan Gasibu Bertransformasi Jadi Ruang Literasi Digital

×

Imbas Penataan Gedung Sate, Perpustakaan Gasibu Bertransformasi Jadi Ruang Literasi Digital

Sebarkan artikel ini
Sejumlah warga beraktivitas di Lapangan Gasibu. Ini menjadi salah satu tempat wisata Bandung dekat Gedung Sate yang bisa dijajal.(SHUTTERSTOCK/ALGI FEBRI SUGITA)

BANDUNG, TINTAHIJAU.com — Pemerintah Provinsi Jawa Barat tengah melakukan penataan terintegrasi pada kawasan Gedung Sate dan Lapangan Gasibu. Proses penataan dengan konsep lanskap terpadu ini berdampak pada penyesuaian bangunan Perpustakaan Gasibu demi menciptakan ruang publik yang lebih estetis, rapi, nyaman, dan fungsional.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman, menegaskan bahwa seluruh proses penataan ini sudah berjalan sesuai dengan regulasi yang berlaku. Langkah penyesuaian bangunan dilakukan agar tata ruang di area tersebut menjadi lebih optimal.

“Bangunan Perpustakaan Gasibu diadaptasikan dengan desain lanskap penataan Gasibu yang terintegrasi dengan halaman Gedung Sate. Hal tersebut dilakukan dalam rangka harmonisasi antara elemen alam dan elemen buatan di kawasan Gasibu agar lebih fungsional, rapi, dan indah,” ujar Herman pada Senin (13/7/2026), sebagaimana dikutip dari TribunJabar.id.

Meski bangunan fisik perpustakaan mengalami penyesuaian, Pemprov Jabar menjamin bahwa pemenuhan kebutuhan literasi masyarakat tidak akan terganggu. Masyarakat tetap bisa mengakses buku melalui sistem digital dan layanan unit bergerak.

“Perpustakaan Gasibu akan bertransformasi menjadi perpustakaan digital sehingga masyarakat dapat mengakses layanan literasi secara lebih mudah dan modern,” jelas Herman.

Herman menambahkan bahwa opsi membaca buku fisik pun tetap diakomodasi. “Sementara itu, bagi masyarakat yang masih membutuhkan koleksi buku cetak, Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan menghadirkan layanan perpustakaan keliling (mobile library) di sekitar kawasan Gasibu sehingga akses terhadap bahan bacaan tetap tersedia,” tuturnya.

Senada dengan Sekda, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Dispusipda) Jawa Barat, Kusmana Hartadji, membenarkan bahwa perombakan bangunan perpustakaan ini merupakan bagian dari optimalisasi ruang publik.

“Ya, itu kan terkait dengan penataan ruang publik ya. Jadi untuk lebih nyaman, juga lebih sesuai dengan fungsi, lebih optimal sebagai peruntukannya. Jadi, intinya pasti berdampak kepada perpustakaan,” ungkap Kusmana baru-baru ini seperti yang dimuat di laman KOMPAS.com, dikutip Minggu (19/7/2026).

Kusmana membantah anggapan bahwa pemerintah mengabaikan kegiatan literasi di lokasi tersebut. Menurutnya, saat ini pihak Dispusipda bersama Biro Umum sedang mengkaji pembagian ruang secara proporsional untuk menentukan konsep fasilitas literasi yang baru.

Ia mengakui keberadaan Perpustakaan Gasibu memiliki kedekatan emosional tersendiri bagi warga, dengan angka kunjungan mencapai rata-rata 1.000 orang per bulan, terutama pada akhir pekan.

“Bahwa perpustakaan memiliki nilai dan kenangan bagi masyarakat di sana ya. Banyak juga sebetulnya pengunjungnya, hampir rata-rata sekitar per bulan itu ada yang 1.000, apalagi Sabtu-Minggu ya,” kata Kusmana.

Ke depan, Dispusipda Jabar berharap fasilitas perpustakaan baru dapat hadir dengan konsep yang lebih modern demi melayani pemustaka secara lebih baik. “Jadi nanti barangkali bukan berarti mengurangi semangat, tapi saya juga sedang menunggu nih nanti kajian yang komprehensif, pemustaka tetap bisa dilayani gitu ya,” sebutnya.

Kusmana optimis penataan estetika kota dan penguatan literasi bisa berjalan beriringan. “Mudah-mudahan ya, mudah-mudah ada lagi. Tapi juga kan ini juga sama-sama ruang publik dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekosistem literasi, sehingga keduanya dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. Jadi semangat literasinya mah tetap,” harapnya.

Sebagai alternatif selama masa penataan, Kusmana menyarankan warga untuk memanfaatkan fasilitas perpustakaan lain yang tersedia atau mengajukan layanan kelompok.

“Yang pertama bisa langsung juga ke Perpustakaan Provinsi ya di Jalan Kawaluyaan. Juga perpustakaan yang ada di Kota Bandung. Atau memang kalau memang berkelompok gitu, bisa juga minta perpustakaan keliling ke kita,” pungkasnya.