Megapolitan

BMKG Lakukan Operasi Modifikasi Cuaca untuk Antisipasi Kekeringan di Musim Kemarau

×

BMKG Lakukan Operasi Modifikasi Cuaca untuk Antisipasi Kekeringan di Musim Kemarau

Sebarkan artikel ini
Petani mencari belalang untuk pakan burung di areal pesawahan yang dilanda kekeringan di Jalan Babakan Sari, Riung, Kota Bandung, Jumat (15/8/14). Meningkatnya jumlah pembangunan gedung di kawasan ini membuat daerah resapan air menjadi semakin berkurang akibatnya areal pesawahan yang hanya mengandalkan air dari turunnya hujan harus menggunakan mesin penyedot air untuk mengalirkan air dari selokan sekitar demi tetap teralirinya sawah. KORAN SINDO / DJULI PAMUNGKAS

JAKARTA, TINTAHIJAU.com – Memasuki masa transisi dari musim hujan ke musim kemarau, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan dini terkait potensi kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia, terutama Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

BMKG mencatat bahwa beberapa wilayah tersebut telah mengalami hari tanpa hujan yang cukup panjang, sehingga potensi kekeringan harus menjadi perhatian serius bagi pemerintah pusat dan daerah.

BMKG, berdasarkan pemantauan terhadap anomali iklim global, menyebutkan masih ada peluang pertumbuhan awan hujan di sekitar wilayah Indonesia. Kesempatan ini dapat dimanfaatkan untuk mitigasi sebelum memasuki puncak musim kemarau melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). OMC bertujuan mengoptimalkan pertumbuhan awan hujan untuk mengisi tampungan air atau waduk di daerah yang berpotensi kekeringan.

Dalam upaya mitigasi bencana kekeringan, BMKG bekerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta TNI Angkatan Udara. Operasi Modifikasi Cuaca akan dilakukan serempak di Pulau Jawa, dengan fokus mengisi air di 35 waduk untuk menjaga pasokan air, terutama pada jaringan irigasi pertanian.

Jadwal dan Pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menyatakan bahwa pelaksanaan OMC dijadwalkan mulai 30 Mei 2024 hingga 10 Juni 2024. Dwikorita mengungkapkan bahwa adanya unit kerja baru Deputi Bidang Modifikasi Cuaca di BMKG akan membuat BMKG semakin aktif menjalankan tugas aksi dini mitigasi potensi bencana hidrometeorologi, termasuk kekeringan yang bisa berdampak pada berkurangnya ketersediaan air untuk kebutuhan pertanian dan air baku melalui operasi modifikasi cuaca.

Tanggung Jawab dan Lokasi Posko

Setiap posko yang berlokasi di Jakarta, Bandung, Solo, dan Surabaya akan bertanggung jawab untuk mengisi waduk di wilayah masing-masing. Operasi ini didukung oleh empat pesawat jenis CASA 212 milik TNI AU dari Lanud Abd. Rahman Saleh Malang. Berikut adalah rincian tanggung jawab setiap posko:

  1. Posko Bandung ditempatkan di Lanud Husein Sastranegara dan bertanggung jawab untuk pengisian waduk di wilayah Jawa Barat.
  2. Posko Jakarta ditempatkan di Lanud Halim Perdana Kusuma dan bertanggung jawab terhadap pengisian waduk di sebagian wilayah Jawa Barat dan Banten.
  3. Posko Solo ditempatkan di Lanud Adi Sumarmo dan bertanggung jawab terhadap pengisian waduk di wilayah Jawa Tengah.
  4. Posko Surabaya ditempatkan di Lanud Muljono dan bertanggung jawab untuk pengisian waduk di wilayah Jawa Timur.

Dukungan dan Tujuan OMC

Plt. Deputi Modifikasi Cuaca BMKG, Dr. Tri Handoko Seto, menambahkan bahwa operasi di Pulau Jawa dilakukan serempak karena peluang pertumbuhan awan yang memungkinkan untuk disemai agar menjadi hujan sangat terbatas. Pelaksanaan OMC ini sesuai dengan arahan Menteri PUPR yang akan menjadikannya sebagai pilot project untuk operasi modifikasi cuaca lainnya di seluruh waduk di Indonesia.

Tujuan utama dari OMC ini adalah untuk mengantisipasi kekeringan sekaligus mendukung program ketahanan pangan pemerintah. Dengan demikian, diharapkan langkah-langkah mitigasi ini dapat menjaga ketersediaan air di wilayah-wilayah yang rawan kekeringan, serta memastikan kelangsungan irigasi pertanian yang sangat penting bagi ketahanan pangan nasional.