Megapolitan

Gas Melon Langka di Cianjur Selatan, Warga Terpaksa Masak Pakai Kayu Bakar

×

Gas Melon Langka di Cianjur Selatan, Warga Terpaksa Masak Pakai Kayu Bakar

Sebarkan artikel ini

CIANJUR, TINTAHIJAU.com – Menjelang momen perayaan Idul Fitri 2026, masyarakat di kawasan selatan Kabupaten Cianjur justru harus berhadapan dengan krisis bahan bakar dapur. Ketersediaan gas LPG (Elpiji) subsidi tabung 3 kilogram mendadak sulit ditemukan di pasaran.

Demi memastikan hidangan khas Lebaran tetap tersaji di meja makan, warga pun terpaksa memutar otak dan kembali memanfaatkan kayu bakar sebagai bahan bakar alternatif.

Stok Kosong Sejak Pertengahan Pekan
Kondisi memprihatinkan ini diceritakan oleh Rusmana (31), salah seorang warga yang berdomisili di Kecamatan Sindangbarang. Ia menuturkan bahwa kelangkaan si gas “melon” ini sudah mulai terasa sejak beberapa hari ke belakang.

“Iya stok di warung hingga pangkalan kosong sejak tiga hari lalu,” kata dia, Jumat (20/3/2026) dikutip dari laman detikJabar.

Untuk menyiasati situasi ini, terutama agar tetap bisa memasak menu sahur dan berbuka puasa, masyarakat sekitar kini kembali membangun tungku api tradisional di halaman rumah mereka.

“Jadi balik lagi ke zaman dulu, pake tungku dan kayu bakar. Kayunya ambil dari kebun atau hutan di dekat rumah. Kalau tidak gitu, jadi tidak bisa masak,” kata dia.

Menghadapi situasi ini, Rusmana berharap adanya langkah cepat dari pihak berwenang untuk menambah kuota pasokan gas ke wilayah mereka, mengingat kebutuhan yang memuncak jelang hari raya.

“Jadi susah mau masak buat lebaran besok. Harusnya diantisipasi penambahan stok dari awal,” kata dia.

Berburu hingga Lintas Kecamatan, Harga Melambung Rupanya, fenomena kelangkaan ini merata di beberapa titik. Ilham Hendrayana (40), seorang warga dari Kecamatan Leles, membenarkan bahwa wilayah tempat tinggalnya juga mengalami nasib serupa.

“Sama di sini juga susah, elpiji menghilang dari peredaran,” kata dia.

Ilham menjelaskan bahwa krisis ini membuat warga mengambil jalan masing-masing. Ada yang pasrah dan memilih mencari kayu bakar, namun ada pula yang nekat berkendara jauh untuk memburu stok gas yang tersisa di wilayah lain. Sialnya, hukum pasar berlaku; kelangkaan ini memicu lonjakan harga yang cukup mencekik.

“Ada yang sampai jauh ke Agrabinta untuk cari gas 3 kilo. Kalaupun ada harganya jadi jauh naik, biasanya Rp 21 ribu per tabung jadi Rp 26 ribu per tabung. Jadi susah menghadapi lebaran kondisi seperti ini,” pungkasnya.