Megapolitan

Imbas Perang di Timur Tengah, Produsen Tahu di Bandung Tertekan Kenaikan Harga Bahan Baku

×

Imbas Perang di Timur Tengah, Produsen Tahu di Bandung Tertekan Kenaikan Harga Bahan Baku

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Tahu Sumedang | Foto: Pixabay

BANDUNG, TINTAHIJAU.com — Perajin tahu di sentra Cibuntu, Kota Bandung, mulai merasakan dampak kenaikan harga bahan baku yang dipicu kondisi global. Meski aktivitas produksi tetap berjalan seperti biasa, beban biaya kini kian menghimpit.

Kenaikan paling terasa berasal dari harga kedelai impor dan bahan pendukung lain seperti plastik. Akibatnya, harga tahu di tingkat produsen pun mulai mengalami penyesuaian.

Muhamad Zamaludin, salah satu perajin tahu, mengungkapkan bahwa kenaikan harga sudah tidak terhindarkan.

“Sekarang tahu mulai hari ini ada kenaikan harga. Dari harga Rp60 ribu per papan sekarang Rp62 ribu, naik Rp2 ribu,” ujarnya, Selasa (31/3/2026).

Ia menjelaskan, harga kedelai saat ini telah melampaui batas normal. Jika sebelumnya berkisar Rp8 ribu per kilogram, kini naik menjadi di atas Rp10 ribu per kilogram.

“Untuk bahan baku sekarang Rp10.600 – Rp10.700 per kilogram dari Amerika, kalau dari Kanada Rp10.300. Naiknya tinggi dari sebelum puasa, normalnya Rp8 ribu, sekarang Rp10 ribu lebih,” jelasnya.

Menurutnya, lonjakan harga ini dipicu konflik di Timur Tengah yang berdampak pada rantai pasok global, termasuk bahan baku impor.

“Ini karena dampak perang di Timur Tengah, ngaruh sekali karena seperti plastik, biji plastiknya dari luar. Kedelai juga impor dari Amerika, Kanada juga ada,” tuturnya.

Untuk bertahan, perajin melakukan berbagai cara, mulai dari menaikkan harga hingga mengurangi ukuran produk. Namun, tekanan diperkirakan masih akan berlanjut, terutama jika harga BBM ikut naik.

“Ini juga kemungkinan akan naik lagi kalau BBM naik, kemungkinan semua bahan naik juga. Kalau BBM naik bisa sampai Rp65 ribu per papan,” katanya.

Dampak kenaikan tersebut mulai dirasakan pedagang. Yanto, salah satu penjual tahu, mengaku telah menerima kenaikan harga dari produsen, meski belum sepenuhnya diteruskan ke konsumen.

“Iya ada kenaikan, dari Rp60 ribu per papan, sekarang jadi Rp62 ribu,” ujarnya.

Ia mengaku masih menahan kenaikan harga di tingkat eceran, namun kemungkinan penyesuaian tetap terbuka jika kondisi berlanjut.

“Harusnya naik juga. Tapi belum karena baru sekarang kan naiknya (dari perajin),” katanya.

Jika harga terus meningkat, ia memperkirakan harga tahu per bungkus akan ikut naik.

“Paling naik dari Rp12 ribu satu bungkus, sekarang jadi Rp13 ribu,” pungkasnya.

Sumber: detikJabar