Majalengka, TINTAHIJAU.COM – Memasuki musim kemarau, Kabupaten Majalengka mulai menggenjot masa tanam kedua (MT II) dengan target luasan mencapai 12.500 hektare. Sebagian besar lahan yang akan ditanami tersebar di wilayah utara yang dikenal sebagai sentra pertanian padi.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Majalengka, Gatot Sulaeman, optimistis target tersebut dapat tercapai. Hingga saat ini, realisasi tanam sudah menyentuh angka 11 ribu hektare. “Target dari provinsi sekitar 12.500 hektare, dan saat ini sudah 11 ribu hektare. Insya Allah bisa tercapai,” ujar Gatot.
Didominasi Majalengka Utara, Selatan Hanya SebagianGatot menjelaskan, MT II pada musim kemarau lebih banyak dilakukan di wilayah dataran rendah atau Majalengka bagian utara.
Sementara di wilayah selatan yang didominasi dataran tinggi, hanya sebagian kecil lahan yang digunakan untuk padi karena mayoritas petani menanam komoditas sayuran. “Di selatan ada, tapi hanya beberapa. Karena di sana lebih banyak sayuran. Yang dominan tetap di utara,” jelasnya.
Untuk mendukung MT II, Pemkab Majalengka menerima bantuan benih sebanyak 79 ton.
Bantuan tersebut didistribusikan kepada petani melalui kelompok tani (Poktan) dan gabungan kelompok tani (Gapoktan), dengan alokasi 25 kilogram per hektare. “Benih yang diberikan sudah disesuaikan dengan kondisi musim kemarau,” tambah Gatot.
Di musim kemarau, produktivitas padi diperkirakan berada di kisaran 5–6 ton per hektare, lebih rendah dibandingkan MT I yang bisa mencapai 7–9 ton per hektare.
Untuk memenuhi kebutuhan air, petani memanfaatkan sumur pantek serta saluran irigasi bagi lahan yang dekat sumber air. Umumnya, dalam setahun petani melakukan dua kali masa tanam, meski sebagian kecil bisa mencapai tiga kali.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Nino akan menguat pada semester II 2026, tepatnya pada periode Juni hingga November.
Koordinator Bidang Informasi Iklim Terapan BMKG, Siswanto, menyebut peluang El Nino kuat mencapai 51 persen pada periode tersebut, meski diperkirakan tidak separah tahun 1997 atau 2015. “Namun demikian, kondisi tahun ini diprediksi lebih kering dibandingkan 2023, sehingga tetap perlu diwaspadai,” katanya.
Kondisi ini berpotensi mengganggu sektor pertanian, terutama jika cadangan air di waduk menyusut drastis. Risiko gagal panen hingga puso pun bisa meningkat.
Mengantisipasi dampak kekeringan, BMKG merekomendasikan petani untuk mulai memanen air hujan melalui embung atau kolam penampungan air (blumbang) di area persawahan. “Ini efektif untuk menjaga ketersediaan air saat kemarau panjang,” ujar Siswanto.
Selain itu, petani juga disarankan memilih varietas benih genjah yang memiliki masa panen lebih pendek dan kebutuhan air lebih sedikit.
Dengan berbagai langkah antisipasi tersebut, diharapkan produksi padi di Majalengka tetap terjaga meski di tengah ancaman musim kemarau panjang dan penguatan El Nino.





