TASIKMALAYA, TINTAHIJAU.com — Ancaman krisis air bersih kini mulai membayangi warga Kota Tasikmalaya seiring dengan datangnya musim kemarau. Merespons situasi yang kian mengkhawatirkan ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tasikmalaya secara resmi menyepakati usulan penetapan status siaga darurat kekeringan.
Keputusan krusial tersebut diambil setelah tim gabungan melakukan kaji cepat secara intensif di lapangan selama beberapa hari terakhir. Langkah taktis ini diprioritaskan untuk memperkuat kesiapan serta mitigasi pemerintah daerah dalam meminimalisasi dampak kekeringan yang diprediksi akan berlangsung selama beberapa bulan ke depan.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Tasikmalaya, Budi Martanova, mengungkapkan bahwa langkah antisipasi ini merujuk langsung pada rilis prediksi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
“Berdasarkan informasi dari BMKG, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi mulai bulan Juli hingga September,” ujar Budi saat memberikan keterangan pada Selasa (14/7/2026) kemarin.
Sebagai langkah nyata di lapangan, BPBD telah menerjunkan tim asesmen khusus selama sepekan terakhir untuk menyisir berbagai wilayah yang berpotensi terdampak.
Berdasarkan data kaji cepat yang dihimpun per 8 Juli 2026, tercatat ada 98 titik di 12 kelurahan yang tersebar di 5 kecamatan mulai mengalami kelangkaan air bersih. Titik-titik ini membutuhkan pasokan logistik air bersih secepatnya.
Secara akumulatif, potensi bencana kekeringan ini mengancam sedikitnya 7.287 Kepala Keluarga (KK) atau setara dengan 27.825 jiwa. Kecamatan Mangkubumi tercatat sebagai wilayah dengan dampak paling masif.
Berikut adalah data rincian wilayah di Kota Tasikmalaya yang mendesak membutuhkan distribusi bantuan air bersih:
| Kecamatan | Kelurahan | Titik Rawan | Jumlah Terdampak |
| Mangkubumi | Karikil Cigantang | 33 titik 2 titik | 2.281 KK (12.003 Jiwa) 43 KK (150 Jiwa) |
| Purbaratu | Singkup Sukaasih | 16 titik 2 titik | 1.786 KK (5.336 Jiwa) 113 KK (333 Jiwa) |
| Tamansari | Tamansari Setiawargi Sumelap | 10 titik 5 titik 5 titik | 662 KK (2.440 Jiwa) 558 KK (1.566 Jiwa) 116 KK (277 Jiwa) |
| Kawalu | Cilamajang Leuwiliang Urug | 12 titik 7 titik 1 titik | 757 KK (2.420 Jiwa) 172 KK (488 Jiwa) 40 KK (120 Jiwa) |
| Cibeureum | Setianegara Setiajaya | 3 titik 2 titik | 577 KK (2.200 Jiwa) 182 KK (492 Jiwa) |
Dari total 69 kelurahan yang ada di Kota Tasikmalaya, asesmen terbaru BPBD memetakan bahwa 59 kelurahan kini masuk ke dalam zona potensi terdampak kekeringan. Sementara itu, 10 kelurahan sisanya terpantau masih aman dan belum melaporkan adanya tanda-tanda krisis air bersih.
“Untuk sementara, 59 kelurahan kami kategorikan memiliki potensi terdampak. Mudah-mudahan 10 kelurahan lainnya tetap aman,” tutur Budi.
Di sektor pertanian, BPBD juga bergerak cepat berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) guna mengatur ritme pembukaan pintu air agar kebutuhan irigasi petani tetap terjaga.
Meski pasokan air di beberapa wilayah mulai menyusut, BPBD menegaskan bahwa situasi secara umum masih relatif terkendali. “Belum ada yang kekeringan ekstrem. Statusnya kita masih siaga, belum masuk ke fase tanggap darurat,” jelasnya.
Sebagai solusi jangka pendek demi kelancaran penyaluran bantuan, BPBD mengimbau masyarakat yang berada di zona merah kekeringan untuk mulai bergotong-royong menyiapkan wadah penampungan air kolektif, seperti tandon besar atau kolam terpal portabel di lingkungan masing-masing.
Langkah ini dinilai sangat penting agar saat armada tangki air bersih dari pemerintah datang, proses bongkar muat air bisa berjalan cepat dan efektif. Warga tidak perlu mengantre lama menggunakan jeriken atau galon pribadi yang berisiko menghambat proses distribusi ke wilayah lain.


