Olahraga

Tragedi Kelam, Tiga Tuan Rumah Piala Dunia 2026 Tersingkir di 16 Besar

×

Tragedi Kelam, Tiga Tuan Rumah Piala Dunia 2026 Tersingkir di 16 Besar

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, TINTAHIJAU.com — Keuntungan tampil di hadapan publik sendiri ternyata belum cukup tangguh untuk membawa tiga raksasa Amerika Utara melangkah lebih jauh. Meksiko, Amerika Serikat (AS), dan Kanada secara kompak harus menelan pil pahit setelah tersingkir di babak 16 besar Piala Dunia 2026. Hasil minor ini memastikan bahwa tidak ada satu pun negara penyelenggara yang berhasil mengamankan tempat di babak perempat final.

Fenomena gugurnya para tuan rumah secara serentak langsung menjadi sorotan tajam dunia internasional. Mengingat edisi 2026 ini merupakan kali pertama dalam sejarah turnamen yang digelar di tiga negara sekaligus, ekspektasi publik begitu membumbung tinggi. Sebagai penerima tiket lolos otomatis ke putaran final, trio fasilitator ini memikul beban psikologis yang masif untuk berbicara banyak di atas rumput lapangan sendiri. Namun, takdir berkata lain; ketiganya harus angkat koper sebelum kompetisi memasuki fase delapan besar.

Di antara ketiga negara tersebut, Meksiko sejatinya sempat memercikkan harapan paling menjanjikan. Skuad berjuluk El Tri tersebut tampil sangat meyakinkan sepanjang fase awal. Mereka menyapu bersih tiga pertandingan babak grup dengan kemenangan tanpa satu kali pun kebobolan, yang mengantarkan mereka finis sebagai jawara Grup A. Tren positif tersebut bahkan sempat berlanjut di babak 32 besar saat mereka berhasil menyingkirkan Ekuador dengan skor meyakinkan 2-0.

Namun, kedigdayaan Meksiko akhirnya menemui tembok kokoh bernama Inggris di babak 16 besar. Dalam drama lima gol, Meksiko dipaksa menyerah dengan skor tipis 2-3. Bintang muda Inggris, Jude Bellingham, menjadi momok mengerikan setelah memborong dua gol pada babak pertama, disusul eksekusi penalti Harry Kane yang memperlebar jarak. Meksiko sebenarnya sempat memperkecil ketertinggalan lewat gol Julian Quinones dan penalti Raul Jimenez, namun mereka gagal memanfaatkan keunggulan jumlah pemain setelah bek Inggris, Jarell Quansah, diganjar kartu merah sejak menit ke-54.

Sementara itu, nasib serupa tapi tak sama dialami oleh tim nasional Amerika Serikat. Skuad Negeri Paman Sam melaju dari penyisihan Grup D dengan modal dua kemenangan dan satu kekalahan, sebelum akhirnya membungkam Bosnia dan Herzegovina di babak 32 besar. Akan tetapi, asa publik tuan rumah seketika pupus di babak 16 besar yang berlangsung pada Selasa (7/7/2026).

Bermain di bawah tekanan tinggi, AS hancur lebur dihantam Belgia dengan skor mencolok 1-4. Gelandang Belgia, Charles De Ketelaere, keluar sebagai pahlawan berkat torehan dua golnya. Hans Vanaken dan penyerang Romelu Lukaku turut menyumbang masing-masing satu gol ke gawang AS. Tuan rumah hanya mampu mencetak satu gol hiburan yang dlesakkan oleh Malik Tillman.

Setali tiga uang, Kanada juga mengalami antiklimaks. Setelah berhasil merayap keluar dari fase grup dan menumbangkan Afrika Selatan 1-0 pada babak 32 besar, langkah mereka justru terhenti paling awal di antara rekan sejawatnya. Kanada tak berdaya saat digilas tim tangguh Afrika Utara, Maroko, dengan skor telak 0-3 di babak 16 besar.

Azzedine Ounahi tampil brilian dengan memborong dua gol bagi Singa Atlas, sementara Soufiane Rahimi mengunci kemenangan Maroko lewat gol penutup pada masa injury time babak kedua. Gugurnya Kanada sekaligus memastikan berakhirnya dominasi lokal di benua sendiri.

Sejarah Piala Dunia mencatat status tuan rumah kerap membawa berkah, seperti Korea Selatan yang menembus semifinal (2002), Rusia ke perempat final (2018), hingga Prancis yang mengangkat trofi juara pada 1998 di hadapan publik sendiri. Kendati gagal menyamai prestasi emas para pendahulu tersebut, pencapaian Meksiko, AS, dan Kanada tahun ini dinilai masih jauh lebih baik ketimbang Qatar pada edisi 2022 lalu, yang sudah harus tersingkir tragis sejak babak penyisihan grup.

Dengan berakhirnya perjalanan ketiga negara penyelenggara ini, sejarah baru yang unik sekaligus kelam tercipta dalam pergelaran modern sepak bola dunia. Untuk pertama kalinya dalam format tiga negara, seluruh tuan rumah gugur sebelum perempat final, membuat perebutan gelar juara kini sepenuhnya menjadi panggung suci bagi tim-tim pendatang.