CIAMIS, TINTAHIJAU.com – Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Ciamis tengah melakukan penyisiran besar-besaran terhadap data Anak Tidak Sekolah (ATS) di wilayahnya. Berdasarkan data awal Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin), tercatat sebanyak 13.400 anak masuk dalam kategori tersebut, meski angka ini diprediksi akan menyusut setelah proses verifikasi faktual selesai.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis, Erwan Darmawan, menjelaskan bahwa pihaknya saat ini menggandeng pemerintah desa untuk memastikan validitas data di lapangan. Hal ini dilakukan karena ada dugaan data awal belum sepenuhnya akurat.
“Ada kemungkinan dari data itu orangnya sudah pindah, tidak dikenal, atau bahkan sudah meninggal. Kami harap dengan verifikasi ini angkanya terus berkurang,” ujar Erwan, seperti yang dimuat di laman detikJabar, Rabu (29/4/2026).
Berdasarkan identifikasi awal, tingginya angka ATS di Ciamis dipicu oleh beragam faktor kompleks. Selain kendala ekonomi yang memaksa anak untuk bekerja, pernikahan di usia dini juga menjadi penghambat utama.
“Ada yang sudah menikah lalu merasa malu untuk kembali sekolah. Selain itu, ada anak yang belajar di pesantren namun tidak tercatat di sistem formal sehingga masuk kategori ATS,” jelas Erwan.
Untuk mengatasi hal tersebut, Disdik mendorong pesantren-pesantren untuk mendirikan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) agar para santri tetap bisa mendapatkan ijazah formal.
Senada dengan Erwan, Sekretaris Disdik Ciamis, Muharam A Zajuli, mengungkapkan bahwa hingga saat ini proses verifikasi telah mencapai 59 persen. Dari data yang sudah masuk, mayoritas anak memang memilih tidak sekolah karena sudah bekerja atau kurangnya motivasi belajar.
Guna menekan angka ini, Disdik menerapkan strategi “jemput bola” melalui PKBM. Petugas mendatangi langsung rumah-rumah warga untuk mengajak anak kembali mengenyam pendidikan, baik melalui jalur formal maupun program paket.
“Sasaran kami adalah anak usia 7 sampai 18 tahun. Kami terus memperbarui data dan memastikan mereka kembali ke satuan pendidikan, baik formal maupun nonformal,” pungkas Muharam.
Pihak Disdik juga mengimbau masyarakat aktif melaporkan jika menemukan anak putus sekolah di lingkungan sekitar agar segera mendapatkan penanganan pendidikan yang tepat.




