JAKARTA, TINTAHIJAU.com — Pemerintah menempatkan konsumsi masyarakat sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan I 2026. Momentum Ramadan dan Idul Fitri dinilai menjadi peluang untuk mengerek aktivitas belanja, sehingga upaya penguatan daya beli masyarakat terus diintensifkan.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah memastikan likuiditas di dalam sistem keuangan tetap terjaga agar aktivitas konsumsi berjalan lancar. Koordinasi dengan bank sentral pun dilakukan untuk memastikan masyarakat memiliki akses yang cukup terhadap uang beredar.
“Saya pastikan uang di sistem cukup, kerja sama dengan Bank Sentral, untuk memastikan orang bisa belanja. Selain itu ada dorongan dari orang yang punya uang untuk belanja, kita akan perbaiki daya belu juga,” kata Purbaya Yudhi Sadewa di sela-sela kegiatannya akhir pekan kemarin.
Selain menjaga likuiditas, pemerintah juga menyiapkan berbagai insentif guna menopang daya beli selama bulan Ramadan dan Idul Fitri. Kebijakan fiskal dijaga tetap akomodatif, termasuk dengan memastikan tidak ada kenaikan pajak dalam waktu dekat.
“Pemerintah juga tidak akan menaikkan pajak dan saya juga akan mengejar kementerian serta lembaga belanja lebih cepat,” ujarnya.
Meski demikian, Purbaya mengakui pemerintah belum dapat memastikan seberapa besar dampak momen Ramadan dan Idul Fitri terhadap pertumbuhan ekonomi. Namun ia menegaskan, periode tersebut diyakini tidak akan menimbulkan tekanan tambahan bagi perekonomian nasional.
Pemerintah optimistis, kombinasi konsumsi masyarakat yang terjaga, belanja pemerintah yang dipercepat, serta stabilitas sistem keuangan dapat menjaga laju pertumbuhan ekonomi pada awal 2026.





