Profil

Muhammad Krisna Purwana, Jejak Suara dari Prambors ke Gelombang Syiar

×

Muhammad Krisna Purwana, Jejak Suara dari Prambors ke Gelombang Syiar

Sebarkan artikel ini

BANDUNG, TINTAHIJAU.com — Di antara riuh perubahan zaman dan derasnya arus digital, ada suara yang tetap memilih setia pada gelombang udara. Bukan sekadar suara yang terdengar, melainkan suara yang tumbuh bersama waktu. Nama itu adalah H. Muhammad Krisna Purwana, penyiar yang meniti jalan panjang dari tawa anak muda hingga syiar yang meneduhkan, tanpa pernah benar-benar meninggalkan jati dirinya hadir sebagai sahabat.

Ada masa ketika radio lebih dari sekadar benda elektronik di sudut ruang tamu. Era tahun 1980-90an, radio adalah cahaya kecil di tengah malam panjang. Suara yang mengalir dari speaker menjadi teman begadang para mahasiswa, sopir truk, ibu-ibu yang menidurkan anak, hingga penjaga warung yang menunggu pagi.

Pada masa itulah nama Krisna Purwana pelan-pelan menemukan takdirnya di udara.
Ia bukan penyiar dengan suara berat dan berwibawa. Ia bahkan kerap mengejek suaranya sendiri cempreng, katanya. Namun justru dari suara yang akrab menyapa di udara itulah lahir kedekatan dengan pendengar. Krisna tidak terdengar seperti penyiar. Ia terdengar seperti seorang sahabat.

Ia masuk radio tanpa seremoni panjang. Di Radio Bahana, mikrofon menyala, dan dunia seakan memberi isyarat berbicaralah kepada pendengar. Leluconnya mengalir tanpa pretensi. Pendengar tertawa bukan karena naskah yang rumit, melainkan karena kejujuran yang terasa. Program Bahana Jokes pun menjelma kegemaran.

Gelombang itu kemudian membawanya ke Radio Prambors, ruang di mana radio anak muda mencapai masa keemasannya. Di sana, bersama Sys NS, Pepeng, Muchlis Gumilang, dan Nana Krip, ia ikut meramaikan Sersan Prambors (Serius Tapi Santai).
Mereka bukan sekadar penyiar. Mereka adalah suara yang mewarnai zamannya.
Orang-orang menunda tidur hanya untuk mendengar percakapan yang terdengar ringan, padahal di situlah tersimpan denyut generasi.

Pagi hari pun berubah makna. Acara Morning Talk di Female Radio yang semula dianggap jam siaran yang tak menjanjikan, justru menjadi penanda hari. Di sela suara merdu Ida Arimurti, celetukan Krisna terasa seperti gula yang melarut tanpa terlihat mengubah rasa tanpa perlu menonjolkan diri.
Radio kala itu bekerja dalam sunyi yang tekun. Tidak ada media sosial. Tidak ada rekaman instan. Yang ada hanya kaset, kabel telepon, dan buku catatan. Krisna menulis, mencoret, mencatat respons pendengar. Sebab ia tahu, ketika radio menjadi satu-satunya teman malam, penyiar tak boleh sekadar bercakap. Ia harus hadir.

Waktu berjalan, televisi menguat, internet datang. Dunia berubah menjadi lebih cepat dan lebih gaduh. Radio tak lagi sendirian di ruang keluarga. Namun sebagian orang tidak pernah benar-benar meninggalkan radio. Mereka hanya berpindah gelombang.

Muhammad Krisna Purwana kini mengelola sebuah radio dakwah, Radio Silaturahim.
Kini, di frekuensi 720 AM Cibubur, Muhammad Krisna menjaga nyala itu bersama Radio Silaturahim (Rasil). Jika dahulu ia mengantar tawa hingga larut, kini ia membantu mengantar pesan yang lebih teduh. Nada boleh berubah, tetapi semangatnya tetap menyapa pendengar dengan syiar dan syair.

Rasil bukan radio yang lahir dari gegap gempita industri. Ia tumbuh dari niat dakwah. Mengusung semboyan “Untuk Islam yang Satu”, Rasil memilih jalur yang merangkul dan mempersatukan ummat. Dari Masjid Silaturahim di Cibubur, siaran mengalir ceramah, dialog interaktif, tanya jawab keislaman. Gelombang AM 720 kHz mungkin terdengar sederhana di tengah era streaming dan podcast. Namun justru dalam kesederhanaan itu tersimpan keteguhan.

Pada 9 September 2020, bertepatan dengan milad ke-11, langkah sunyi diambil. Aset Rasil tanah, bangunan, jaringan siaran, diwakafkan kepada Yayasan Waqaf Rumah Quran Silaturahim. Radio itu tidak lagi menjadi milik pribadi. Ia menjadi milik umat.
Langkah itu mengingatkan bahwa radio, sejak awal, memang bukan tentang kepemilikan. Ia tentang pengabdian.

Di tengah zaman yang serba komersial dan cenderung hiruk-pikuk, masih ada orang-orang yang percaya pada kerja panjang yang tak selalu terlihat. Krisna Purwana adalah salah satunya penyiar yang membuktikan bahwa gelombang boleh berganti, frekuensi boleh berpindah, tetapi panggilan untuk menyapa dengan tulus tak pernah usang.

Krisna pernah meluncurkan buku berjudul Akhirnya Tertawa Juga: Ratusan Humor dengan Ribuan Manfaat yang diterbitkan oleh Penerbit Mizan. Buku ini menjadi penegas bahwa humor bukan sekadar selingan, melainkan jembatan komunikasi yang efektif.

Akhirnya Tertawa Juga: Ratusan Humor dengan Ribuan Manfaat menghadirkan kumpulan kisah jenaka yang ringan namun bermakna. Krisna meyakini, menyelipkan humor dalam pembicaraan yang serius justru memudahkan lawan bicara menerima pesan yang disampaikan. Tawa mencairkan suasana, membuka hati, dan membuat nasihat terasa lebih bersahabat.

Radio mungkin tak lagi menjadi satu-satunya teman malam. Namun selama masih ada suara yang disampaikan dengan hati, ia tak akan pernah benar-benar pergi.

Dan di antara dengung halus gelombang AM yang mungkin terdengar samar di sela bising kota, ada jejak panjang seorang penyiar yang memilih setia.

Muhammad Krisna Purwana tidak sekadar berbicara di udara. Ia menjaga nyalavl dari tawa ke dakwah, dari hiburan ke pengabdian.

Radio tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya menunggu untuk kembali didengarkan.
Radio mungkin tak lagi menjadi satu-satunya teman setia. Dunia telah berubah, medium berganti, cara orang mendengar pun berbeda. Namun selama masih ada suara yang disampaikan dengan ketulusan, radio akan selalu menemukan jalannya kembali.

Di antara dengung halus gelombang AM yang bersahaja, tersimpan jejak panjang seorang penyiar yang memilih setia. Muhammad Krisna Purwana tidak sekadar berbicara di udara. Ia merawat nyala dari tawa ke dakwah, dari hiburan ke pengabdian.

Dan seperti gelombang yang tak pernah benar-benar hilang, suaranya akan terus hidup pada mereka yang masih percaya bahwa sebuah sapaan sederhana dapat membuat dunia terasa lebih akrab.

Penulis: Kin Sanubary