Ragam

Hari Pertama Puasa, Jalanan Subang Dipadati Warga Berburu Takjil di Tengah Gerimis

×

Hari Pertama Puasa, Jalanan Subang Dipadati Warga Berburu Takjil di Tengah Gerimis

Sebarkan artikel ini


SUBANG, TINTAHIJAU.COM — Semarak hari pertama bulan suci Ramadan terasa kuat di berbagai sudut Kabupaten Subang. Meski hujan mengguyur sejak pagi dan menyisakan gerimis saat sore hari, warga tetap berbondong-bondong mendatangi sentra penjualan takjil untuk menyiapkan hidangan berbuka, sementara deretan pedagang musiman menghadirkan warna tersendiri di tepi jalan.


Keramaian tampak di sejumlah titik seperti kawasan Pujasera, Jalan Kartawigenda, Jalan Ukong Sutaatmadja, Alun-Alun Subang, Jalan Otista hingga kawasan Perumnas. Aktivitas jual beli mulai menggeliat sejak sekitar pukul 16.30 WIB dan mencapai puncaknya menjelang azan Magrib.


Di kawasan Pujasera, lapak-lapak sederhana menjejali sisi jalan, dipenuhi aneka gorengan, kolak, makanan pedas, hingga minuman dingin berwarna-warni yang menggoda. Pembeli datang silih berganti menggunakan sepeda motor maupun mobil, sebagian berhenti dan parkir di tepi jalan.

Kondisi ini membuat arus lalu lintas melambat, bahkan sesekali tersendat oleh ramainya aktivitas berburu takjil. Gerimis yang turun tak menyurutkan langkah warga; payung terbuka dan jas hujan tipis justru menambah warna suasana sore Ramadan.


Pada hari pertama puasa, gorengan hangat dan sajian bercita rasa pedas menjadi buruan utama warga. Tak kalah diminati, aneka minuman segar seperti es buah dan es cendol laris manis dibeli sebagai pelepas dahaga setelah seharian menahan lapar dan haus.


“Alhamdulillah, meski dari pagi hujan, pembeli tetap ramai. Gorengan sama makanan pedas paling cepat habis. Mudah-mudahan sampai akhir Ramadan terus seperti ini,” ujar Siti (42), pedagang takjil di kawasan Pujasera, sambil melayani antrean pembeli di bawah tenda sederhana.


Di tengah keramaian itu, Rudi (35), salah seorang warga, mengaku tetap semangat berburu takjil meski harus ditemani gerimis.

“Namanya hari pertama puasa, rasanya ingin menyiapkan yang spesial buat keluarga. Hujan tidak masalah, yang penting bisa dapat gorengan dan es buat buka,” katanya.


Menjelang waktu berbuka, suasana berubah cepat. Saat suara penanda Magrib terdengar disusul kumandang azan, kerumunan perlahan menghilang. Jalanan yang sebelumnya padat mendadak lengang, para pedagang menutup sementara lapaknya untuk berbuka, sementara warga bergegas pulang atau menuju masjid terdekat untuk menunaikan salat Magrib.


Semarak hari pertama puasa ini menghadirkan kehangatan kebersamaan masyarakat Subang dalam menyambut bulan penuh berkah—sebuah pemandangan tahunan yang selalu dirindukan dan membawa harapan kebaikan bagi semua.