SUBANG, TINTAHIJAU.COM – Arus investasi yang terus mengalir deras ke Kabupaten Subang ternyata belum berbanding lurus dengan penurunan angka pengangguran.
Meski total investasi sepanjang 2022 hingga 2025 mencapai Rp18,2 triliun, jumlah pengangguran justru masih berada di angka sekitar 76.115 orang atau Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) 6,8 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan investasi belum sepenuhnya mampu memberikan dampak signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja lokal. Dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatat sekitar 63.260 pengangguran, jumlah pencari kerja yang belum terserap justru mengalami peningkatan.
Salah satu faktor yang menjadi penyebab adalah masih adanya ketidaksesuaian antara kompetensi tenaga kerja lokal dengan kebutuhan dunia industri. Akibatnya, banyak lowongan kerja belum dapat diisi oleh masyarakat Subang.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Subang terus memperkuat berbagai program peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan kerja, sertifikasi kompetensi, serta menjalin kolaborasi dengan perusahaan dan perangkat daerah agar tenaga kerja lokal lebih siap memasuki dunia industri.
Di sisi lain, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Subang mencatat realisasi investasi pada periode 2022–2025 mencapai Rp18,2 triliun. Nilai investasi tersebut menjadi salah satu yang terbesar di Jawa Barat dan diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Bupati Subang Reynaldy Putra Andita menegaskan, Pemerintah Kabupaten Subang berkomitmen menciptakan iklim investasi yang aman dan kondusif bagi para investor. Hal itu disampaikannya saat membuka Subang Investment Forum (SIF) di Aula Oman Syahroni, Pemerintah Kabupaten Subang.
Menurut Reynaldy, pemerintah daerah membuka pintu selebar-lebarnya bagi investor yang ingin berinvestasi di Subang, sekaligus memberikan kemudahan dalam proses perizinan dan menjamin keamanan berusaha.
Namun, ia menekankan bahwa tingginya investasi harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya dalam membuka lapangan pekerjaan dan menekan angka pengangguran.
“Saya jujur masih sedih. Saya belum berbahagia dengan tingginya investasi yang masuk ke Subang. Karena masih banyak anak-anak kita yang belum diterima bekerja di industri dan masih banyak pengangguran,” ujar Reynaldy.
Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari besarnya nilai investasi yang masuk, tetapi juga dari seberapa besar manfaatnya dirasakan masyarakat melalui meningkatnya kesempatan kerja dan menurunnya angka pengangguran di Kabupaten Subang.





