SUBANG, TINTAHIJAU.COM – Di tengah dominasi motor sport Jepang pada akhir dekade 2000-an, pernah hadir satu motor yang sukses mencuri perhatian pecinta roda dua Tanah Air. Bukan berasal dari Jepang, melainkan hasil perpaduan desain Inggris dan manufaktur China. Motor tersebut adalah Minerva Megelli 250.
Menurut pengamat otomotif Dadang Widhaswara, Megelli 250 menjadi salah satu motor sport fairing yang paling berani tampil berbeda pada masanya. Desainnya yang mengusung sasis trellis, bodi aerodinamis, serta knalpot underseat membuat tampilannya jauh lebih eksotis dibandingkan rival-rival sekelasnya saat itu.
“Ketika pertama kali diluncurkan tahun 2009, Megelli 250 benar-benar menjadi pusat perhatian. Banyak orang jatuh cinta pada desainnya yang sangat Eropa. Secara visual, motor ini bahkan dianggap lebih menarik dibanding beberapa motor sport Jepang yang beredar saat itu,” ujar Dadang.
Generasi pertama yang dipasarkan dengan nama Minerva Megelli 250R dibekali mesin 250 cc satu silinder SOHC dua katup berpendingin udara. Namun di balik desain yang memikat, performa dan kualitas material menjadi titik lemah yang sering dikeluhkan konsumen.
Sejumlah pengguna mengeluhkan getaran mesin yang cukup besar, kualitas kelistrikan yang kurang optimal, hingga komponen bodi yang dinilai kurang kokoh. Tak heran jika motor ini sempat mendapat stigma sebagai motor yang unggul tampilan namun kurang meyakinkan dari sisi durabilitas.
Menjawab berbagai kritik tersebut, Minerva melakukan perombakan besar pada tahun 2010 melalui kehadiran Megelli 250 RE dan Megelli 250 RV. Kedua model ini menggunakan mesin baru hasil kolaborasi dengan Zongshen berkapasitas 249,6 cc, satu silinder, empat katup, dan telah mengadopsi sistem pendingin cairan.
Perubahan tersebut berdampak signifikan terhadap performa. Tenaga meningkat hingga sekitar 26 hp dengan karakter mesin yang jauh lebih halus dibanding generasi sebelumnya. Versi RV bahkan dibekali suspensi depan upside down dan kopling hidrolik yang saat itu tergolong mewah di kelasnya
“Dari sisi handling, generasi kedua mengalami peningkatan sangat besar. Sasis trellis yang menjadi ciri khas Megelli mampu menghadirkan karakter berkendara yang stabil, terutama saat digunakan di lintasan berkelok,” kata Dadang.
Meski perjalanan Megelli di Indonesia tidak berlangsung lama, motor ini kini justru mulai mendapatkan tempat di hati para kolektor. Unit yang masih mempertahankan kondisi orisinal dengan surat-surat lengkap semakin sulit ditemukan di pasar motor bekas.
Menurut Dadang, tren tersebut membuat nilai koleksi Megelli 250 perlahan meningkat. Bagi para pehobi motor sport unik, Megelli bukan lagi sekadar motor lawas, melainkan bagian dari sejarah industri roda dua Indonesia yang pernah menawarkan alternatif berbeda di tengah dominasi pabrikan Jepang
“Kalau masih memiliki Megelli 250 RE atau RV dalam kondisi standar pabrik, sebaiknya dirawat baik-baik. Unit yang lengkap dan orisinal semakin langka. Di kalangan kolektor, motor seperti ini memiliki nilai historis yang terus naik dari tahun ke tahun,” pungkasnya.





