Profil

Yeq Lawing, Penjaga Sunyi Warisan Dayak Bahau dari Mahakam Ulu

×

Yeq Lawing, Penjaga Sunyi Warisan Dayak Bahau dari Mahakam Ulu

Sebarkan artikel ini

BANDUNG, TINTAHIJAU.com — Di tengah zaman yang memuja kecepatan, kemajuan, dan gemerlap citra diri, ada suara lirih dari pedalaman Mahakam Ulu yang nyaris tak terdengar. Suara itu bukan berasal dari mimbar kekuasaan, bukan pula dari layar gawai. Ia lahir dari tubuh renta seorang perempuan adat yang setia menjaga warisan leluhur, ketika dunia di sekelilingnya terus berubah.

Namanya Yeq Lawing. Yeq Lawing bukan tokoh politik, apalagi pesohor media sosial. Ia adalah bagian dari masyarakat adat Dayak Bahau Umaq Paloq yang hidup di Desa Long Isun, Kecamatan Long Pahangai, Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur. Sosoknya mungkin hanya dikenal di lingkaran terbatas, aktivis lingkungan, peneliti budaya, atau pegiat adat yang peduli pada keberlanjutan tradisi. Namun justru dari kesederhanaan itulah peran Yeq Lawing menjadi penting.

Ati Bachtiar dan host Lulu Lucyana mengisi acara Off The Record di NBS Radio | Foto: Istimewa

Di mata etnofotografer Ati Bachtiar, Yeq Lawing adalah simbol keteguhan. Ia berdiri di garis depan dalam mempertahankan tradisi leluhur di tengah gelombang globalisasi yang menghantam tatanan hidup masyarakat adat di sepanjang Sungai Mahakam. Ketika modernitas kerap dijadikan tolok ukur prestise, bahkan mendorong perubahan identitas budaya, Yeq Lawing memilih bertahan. Ia menjaga jati diri sukunya, yang pada hakikatnya juga bagian dari jati diri bangsa.

Yeq Lawing tercatat sebagai salah satu generasi terakhir pelestari budaya telinga panjang. Ia mewakili sekitar seratus orang tersisa dari rumpun suku Apokayan Bahau, Kayan, Kenyah, dan Punan. Dari 79 perempuan lanjut usia bertelinga panjang yang berhasil didokumentasikan Ati Bachtiar, 35 di antaranya telah wafat (data hingga 2025). Angka-angka ini menegaskan satu hal yaitu waktu tak lagi berpihak pada tradisi.

Namun Yeq Lawing bukan sekadar simbol identitas fisik. Ia masih setia menjalankan circle of life masyarakat Dayak Bahau, sebuah sistem kehidupan yang sarat kearifan lokal. Dalam pandangan ini, manusia bukan pusat semesta, melainkan bagian darinya. Alam tidak ditaklukkan, tetapi dirawat dan dihormati.

Ketangguhan sosok Yeq Lawing dipaparkan Ati Bachtiar saat mengupas buku karyanya Yeq Lawing: Wanita Tangguh dari Long Isun dalam program Literacy On Air di Radio K-Lite 107.1 FM Bandung, Selasa, 3 Februari 2026. Acara tersebut dipandu Adil Maulana dan Kang Tendy K. Somantri dalam suasana obrolan hangat dan reflektif. Antusiasme pendengar sangat positif bisa dilihat dari banyaknya pesan interaktif yang masuk ke studio.

Perjumpaan Ati Bachtiar dengan Yeq Lawing pada 2016 sejatinya bukan pengalaman pertamanya dengan perempuan bertelinga panjang. Namun kebersamaan mereka saat menugal yaitu menanam padi di pinggiran hutan, menjadi titik balik yang membangun ikatan batin. Ati kemudian diangkat sebagai anak dan diberi nama Dayak yakni Buaq. Sejak saat itu, keduanya seolah dipertemukan semesta untuk satu tujuan menyuarakan kegelisahan tentang alam dan budaya yang kian terpinggirkan.

Dari pedalaman Mahakam Ulu, Yeq Lawing menjelma menjadi perempuan tua yang berani melintasi batas ruang. Ia menyampaikan keresahan masyarakat adat di berbagai forum publik, bahkan hingga ke mancanegara. Suaranya mungkin tak lantang, tetapi sarat makna dan keberanian yang lahir dari keyakinan pada nilai-nilai leluhur.

Kisah hidup Yeq Lawing direkam Ati Bachtiar dalam sebuah buku setebal 264 halaman, diperkaya 375 foto dan ilustrasi. Buku ini bukan sekadar dokumentasi visual, melainkan arsip kebudayaan sebuah catatan penting tentang relasi manusia, alam, dan identitas yang terus diuji oleh zaman.

Adapun spesifikasi buku:
Sampul soft cover lipat, Art Carton 310 gr, laminasi doff.
Finishing digital embellishment gold gloss & texture varnish.
Ukuran 21 x 24 cm, perfect binding.
Isi menggunakan Book Paper Lux Cream 90 gr.

Narasi & Fotografi: Ati Bachtiar
Kurator Foto: Ray Bachtiar Dradjat
Ilustrasi & Desain Buku: Hagung Sihag
Media Sosial: RBStudio
Percetakan: PT Bintang Sempurna

Kupas buku Yeq Lawing juga dibahas dalam program “Off The Record” di NBS Radio Bandung, Jalan Tamansari No. 60. Acara ini dipandu penyiar bersuara merdu Lulu Lucyana dan dihadiri fotografer senior Ray Bachtiar yang juga suami Ati Bachtiar, jurnalis senior Dharono Trisawego, Nata Sofia Rubianto, serta Seiichi Aurianto dari manajemen NBS Radio yang kini menempati studio barunya.

Di balik tubuh renta Yeq Lawing tersimpan ingatan panjang tentang sebuah peradaban yang hidup selaras dengan alam. Buku ini mengingatkan kita bahwa budaya bukan sekadar artefak masa lalu, melainkan napas yang harus terus dijaga. Ketika satu tradisi hilang, sesungguhnya kita kehilangan satu cara memandang dunia.

Melalui Yeq Lawing, kita diajak menundukkan kepala, belajar kembali mendengar suara-suara yang selama ini nyaris terabaikan.

Penulis: Kin Sanubary