Pemerintahan

Empat Skema Disiapkan, Distribusi MBG Tetap Berlanjut di Bulan Puasa

×

Empat Skema Disiapkan, Distribusi MBG Tetap Berlanjut di Bulan Puasa

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi. Pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menyiapkan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Slipi, Palmerah, Jakarta Barat, Selasa (23/9/2025). (Sumber: ANTARA/Risky Syukur)

JAKARTA, TINTAHIJAU.com — Pemerintah memastikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap berlangsung selama bulan Ramadan dengan sejumlah penyesuaian teknis. Badan Gizi Nasional (BGN) telah menyiapkan empat pola distribusi agar layanan pemenuhan gizi tidak terhenti meski mayoritas penerima manfaat menjalankan ibadah puasa.

Kepala BGN Dadan Hindayana mengatakan, keberlanjutan program MBG menjadi perhatian utama pemerintah, terutama karena program ini termasuk prioritas nasional. Penyesuaian dilakukan agar pola konsumsi masyarakat selama Ramadan tetap selaras dengan tujuan pemenuhan gizi.

“Ya, untuk Ramadan, makan bergizi akan tetap berlanjut. Jadi, ada empat mekanisme yang akan kita kembangkan,” ujar Dadan, Sabtu (7/2/2026), seperti yang dilansir dari laman KompasTV.

Salah satu skema disiapkan khusus untuk sekolah di daerah yang sebagian besar siswanya berpuasa. Dalam mekanisme ini, distribusi makanan tetap dilakukan ke sekolah, namun menu yang diberikan disesuaikan agar lebih awet dan dapat dibawa pulang oleh para siswa untuk dikonsumsi saat berbuka.

“Yang pertama, untuk anak sekolah di daerah yang mayoritas puasa, makanannya akan seperti biasa dikirim ke sekolah dalam bentuk makanan yang tahan dan bisa dibawa ke rumah untuk dikonsumsi pada saat buka,” ungkap Dadan.

Adapun sekolah dengan mayoritas siswa yang tidak berpuasa akan tetap menerima MBG seperti hari biasa, tanpa perubahan jadwal maupun cara penyaluran. Kebijakan ini dimaksudkan agar kebutuhan gizi harian tetap terpenuhi dan aktivitas operasional program tidak terganggu.

Selain siswa sekolah, BGN juga menegaskan bahwa layanan bagi kelompok rentan tetap berjalan normal selama Ramadan. Kelompok tersebut mencakup ibu hamil, ibu menyusui, serta anak balita yang membutuhkan asupan gizi secara konsisten.

“Kemudian, untuk ibu hamil, ibu menyusui, anak balita, juga normal,” tegasnya.

Menurut BGN, kelancaran distribusi bagi kelompok ini sangat penting karena berhubungan langsung dengan kesehatan ibu serta pertumbuhan dan perkembangan anak.

Penyesuaian lain diterapkan di lingkungan pesantren, khususnya yang memiliki Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di area pendidikan. Untuk skema ini, proses memasak dilakukan pada siang hari, sementara konsumsi makanan digeser ke waktu berbuka puasa.

“Karena penerima manfaatnya ada di dalam pesantren dan SPPG-nya berada di dalam pesantren, maka pelayanannya akan digeser ke saat buka. Jadi masaknya siang hari, dikonsumsi pada saat buka,” jelasnya.

Sebagai bagian dari penerapan kebijakan tersebut, BGN berencana meresmikan salah satu pelaksanaan MBG di sebuah pesantren di Bandung. Peresmian itu sekaligus akan dirangkaikan dengan kegiatan buka puasa bersama.

“Nanti kita akan berikan contoh, ya, salah satunya di satu pesantren di Bandung yang kita akan resmikan dan kemudian akan buka bersama di pesantren tersebut,” kata Dadan.

Langkah ini diharapkan dapat menjadi model penerapan distribusi MBG selama Ramadan, sekaligus menunjukkan kesiapan pemerintah dalam menjaga kesinambungan program gizi nasional. Penyesuaian yang dilakukan mencerminkan fleksibilitas pemerintah dalam menjalankan program strategis tanpa mengabaikan dinamika sosial dan keagamaan masyarakat. Dengan empat skema yang disiapkan, BGN menegaskan komitmennya untuk memastikan pemenuhan gizi tetap terjaga sepanjang bulan suci.