Megapolitan

Sempat Tolak MBG, Kepala Sekolah di Majalengka Ungkap Alasan Menohok

×

Sempat Tolak MBG, Kepala Sekolah di Majalengka Ungkap Alasan Menohok

Sebarkan artikel ini

‎‎Majalengka, TINTAHIJAU.com – Pihak sekolah di Desa Sutawangi, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka akhirnya melakukan evaluasi bersama penyedia dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari SPPG Andir 2 setelah muncul keluhan terkait menu dan porsi makanan yang diberikan selama bulan Ramadan.‎‎

Kepala SDN 2 Sutawangi, Uus Tuswenti, didampingi kepala sekolah SDN 1 dan SDN 4 Sutawangi, mengatakan pihak dapur telah menyetujui untuk melakukan perbaikan menu serta porsi paket MBG bagi para siswa penerima manfaat.‎‎

“Pihak SPPG menyetujui dan siap melakukan perbaikan menu dan porsi paket MBG yang disediakan untuk penerima manfaat,” ujar Uus Tuswenti saat ditemui, Kamis (5/3/2026).‎‎

Menurutnya, keluhan yang muncul dari orang tua murid dan pihak sekolah salah satunya berkaitan dengan pembagian porsi makanan yang dinilai disamaratakan antara siswa kelas bawah dan kelas atas.

‎‎Selain itu, orang tua siswa juga kerap membandingkan paket MBG yang disediakan SPPG Andir 2 dengan penyedia sebelumnya, yakni SPPG Jatisura.

‎‎“Orang tua murid sudah tahu bahwa anggaran untuk kelas bawah dan kelas atas berbeda. Namun dari SPPG Andir ini dipukul rata, itu yang menjadi salah satu kendala,” katanya.‎‎

Uus juga mengungkapkan persoalan lain berkaitan dengan menu makanan yang dinilai kurang variatif. Bahkan pihak sekolah sebelumnya telah menyampaikan masukan kepada dapur agar menu disesuaikan dengan selera anak-anak.‎‎

“Kami sudah mendatangi dapurnya langsung dan meminta agar menu disederhanakan saja, misalnya satu jenis kue ditambah susu atau buah. Tapi yang datang justru lebih parah, itu yang memicu keluhan kemarin,” ujarnya.

‎‎Selain itu, pihak sekolah juga menyoroti tidak adanya informasi mengenai kandungan gizi pada paket MBG yang dikirimkan ke sekolah selama Ramadan. Padahal menurutnya, pada penyedia sebelumnya informasi tersebut selalu disertakan.

‎‎“Sekarang tidak ada keterangan kandungan gizi. Dari awal Ramadan juga tidak ada informasi itu,” katanya.‎‎

Keluhan lain yang disampaikan sekolah yakni menu yang berulang, seperti kolak yang diberikan hingga lima hari berturut-turut, serta buah kurma yang disajikan hampir setiap hari.‎‎

“Dari hari pertama kami sudah minta jangan kolak karena anak-anak kurang suka, tapi tetap kolak lagi sampai lima hari berturut-turut. Kurma juga hampir setiap hari, anak-anak jadi bosan,” ujarnya.‎‎

Meski demikian, pihak sekolah menyatakan telah menerima hasil mediasi dengan dapur MBG dan berharap ke depan ada perbaikan dalam penyediaan menu.‎‎

“Kami memahami dan menerima bahwa mereka akan melakukan evaluasi supaya lebih baik lagi. Tinggal kita lihat saja ke depannya,” Tandasnya.