Megapolitan

Iran Buka Selat Hormuz untuk Dunia, Kecuali untuk Kapal AS dan Israel

×

Iran Buka Selat Hormuz untuk Dunia, Kecuali untuk Kapal AS dan Israel

Sebarkan artikel ini
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi (AFP/Louai Beshara)

JAKARTA, TINTAHIJAU.com — Pemerintah Iran menyatakan Selat Hormuz tetap terbuka bagi kapal dari berbagai negara, namun akses jalur pelayaran strategis itu ditutup bagi kapal milik Amerika Serikat (AS), Israel, serta sekutu mereka.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan kebijakan tersebut merupakan respons atas ketegangan yang meningkat setelah serangan militer AS terhadap target di Pulau Kharg, fasilitas penting bagi ekspor minyak Iran.

“Sebenarnya, Selat Hormuz terbuka,” kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam wawancara eksklusif dengan jurnalis Mesir Ayman Mohyeldin yang dikutip MS Now, Sabtu (14/3).

“Selat itu hanya ditutup untuk kapal tanker dan kapal milik musuh kita, untuk mereka yang menyerang kita dan sekutu mereka. Yang lain bebas untuk lewat,” sambungnya.

Ia kembali menegaskan bahwa pembatasan tersebut hanya berlaku bagi negara yang dianggap memusuhi Iran. “Dan saya dapat mengatakan bahwa Selat tersebut tidak ditutup, tetapi hanya ditutup untuk kapal dan tanker Amerika, Israel, dan bukan untuk yang lain,” ujarnya.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak dunia. Gangguan di jalur ini dapat memicu lonjakan harga minyak global karena sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati kawasan tersebut.

Di tengah ketegangan yang meningkat, muncul pula laporan bahwa Iran berpotensi memberikan akses terbatas bagi kapal tanker minyak untuk melintasi Selat Hormuz. Namun, menurut laporan CNN dan Al Jazeera yang mengutip pejabat Iran anonim, izin itu kemungkinan hanya berlaku jika transaksi minyak dilakukan menggunakan mata uang yuan China.

Kebijakan tersebut disebut menjadi bagian dari strategi Teheran dalam mengatur lalu lintas tanker di jalur air strategis itu setelah konflik antara Iran dengan AS dan Israel semakin memanas.

Dampak konflik tersebut langsung terasa pada pasar energi dunia. Harga minyak mentah Brent sempat melonjak hingga US$119,50 per barel pada Senin (9/3), tertinggi sejak pertengahan 2022. Harga kemudian sempat turun setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan perang dengan Iran berpotensi segera berakhir.

Namun pada perdagangan terbaru, harga kontrak Brent kembali melonjak US$8,54 atau sekitar 9,28 persen menjadi US$100,52 per barel, dipicu meningkatnya serangan Iran terhadap fasilitas minyak dan transportasi di kawasan Timur Tengah.

Sementara itu, Trump juga membuka kemungkinan melakukan serangan lanjutan ke Pulau Kharg, pusat ekspor minyak Iran. Dalam wawancara dengan NBC News, ia mengklaim sebagian besar fasilitas di pulau tersebut telah dihancurkan oleh militer AS.

“Kami mungkin akan menyerangnya beberapa kali lagi hanya untuk bersenang-senang,” kata Trump.

Sebelumnya, pada Sabtu (14/3), militer AS melancarkan serangan udara besar terhadap markas militer Iran di Pulau Kharg yang terletak dekat Selat Hormuz. Trump menyebut operasi tersebut sebagai salah satu serangan paling dahsyat dalam sejarah Timur Tengah.

Meski demikian, ia mengatakan AS sengaja tidak menargetkan infrastruktur minyak Iran dalam serangan itu. Namun Washington memperingatkan akan mempertimbangkan penghancuran fasilitas minyak jika Iran atau sekutunya mengganggu kapal yang melintas di Selat Hormuz.

Pulau Kharg sendiri selama ini menjadi pusat ekspor minyak Iran, dengan sekitar 90 persen minyak mentah negara itu dikirim dari pulau tersebut ke pasar internasional.

Ketegangan kawasan meningkat tajam sejak AS bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada awal Ramadan lalu. Dalam serangan itu, pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Khomeini dilaporkan tewas dan posisinya kini digantikan oleh putranya, Mojtaba.