Megapolitan

Negosiasi di Pakistan Buntu, Ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz Meningkat

×

Negosiasi di Pakistan Buntu, Ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz Meningkat

Sebarkan artikel ini
Presiden Donald Trump berbicara selama acara tentang Ikrar Perlindungan Pembayar Tarif, di Ruang Perjanjian Indian di Gedung Kantor Eksekutif Eisenhower di kompleks Gedung Putih, Rabu, 4 Maret 2026, di Washington. (Sumber: Foto AP/Jacquelyn Martin)

TEHERAN, TINTAHIJAU.com – Eskalasi ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah Amerika Serikat (AS) secara resmi mengumumkan blokade militer terhadap Selat Hormuz dan seluruh pelabuhan Iran mulai Senin (13/4/2026). Langkah drastis ini diambil Presiden Donald Trump menyusul kegagalan total perundingan damai maraton yang digelar di Pakistan akhir pekan lalu.

Upaya diplomatik yang dipimpin oleh Wakil Presiden AS, JD Vance, dan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, berakhir buntu. Meski sebelumnya Trump mengeklaim adanya kemajuan, pembicaraan tersebut hancur di tengah jalan karena Teheran menolak keras tuntutan AS terkait program nuklir mereka.

Kegagalan ini membuyarkan harapan untuk memperkuat gencatan senjata dua minggu yang sedang berjalan. Tak lama setelah delegasi AS meninggalkan Pakistan, Trump langsung memberikan perintah tempur melalui platform Truth Social.

“Berlaku segera, Angkatan Laut Amerika Serikat akan memulai proses pemblokadean terhadap setiap kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz,” tegas Trump. Ia juga mengeluarkan ancaman mematikan bagi militer Iran. “Setiap orang Iran yang menembak ke arah kami… akan diledakkan sampai hancur (blown to hell)!”

Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa blokade ini mencakup seluruh pelabuhan dan wilayah pesisir Iran, termasuk di Teluk Arab dan Teluk Oman. Meski demikian, Washington memberikan catatan bahwa kapal-kapal yang melintas menuju pelabuhan non-Iran di wilayah tersebut tetap diizinkan lewat.

Trump mengeklaim bahwa sebagian besar kekuatan laut Iran sebenarnya telah lumpuh akibat konflik sebelumnya. Ia memperingatkan bahwa sisa-sisa armada Teheran yang mencoba mendekati area blokade akan segera dilumpuhkan oleh kekuatan Angkatan Laut AS.

Respons keras datang dari Teheran. Pusat komando militer Iran, Khatam Al-Anbiya, mengecam kebijakan AS sebagai tindakan kriminal dan ilegal yang menyerupai praktik pembajakan di perairan internasional.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa negaranya tidak akan gentar sedikit pun. “Kami tidak akan tunduk pada ancaman apa pun. Biarkan mereka menguji tekad kami sekali lagi agar kami dapat memberi mereka pelajaran yang lebih besar,” ujarnya setibanya di Teheran dari Islamabad.

Senada dengan Ghalibaf, Kepala Angkatan Laut Iran, Shahram Irani, menyebut gertakan Trump sebagai hal yang “konyol dan menggelikan.” Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah berada dalam posisi siaga penuh. Mereka memperingatkan bahwa setiap kapal militer yang mendekati Selat Hormuz akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata dan akan ditindak dengan sangat keras.

Situasi ini memicu kekhawatiran global akan terhentinya pasokan energi dunia melalui jalur strategis tersebut. Militer Iran bahkan telah melempar ancaman balasan yang dapat melumpuhkan ekonomi kawasan.

“Jika keamanan pelabuhan Republik Islam Iran di perairan Teluk Persia dan Laut Arab terancam, maka tidak ada satu pun pelabuhan di wilayah tersebut yang akan aman,” tulis pernyataan resmi militer Iran.

Hingga berita ini diturunkan, dunia internasional terus menyerukan agar kedua belah pihak menahan diri untuk mencegah pecahnya perang terbuka yang lebih besar di kawasan Teluk.

Sumber: AFP